Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

Family Dining in Hong Kong

Biasanya kalau jalan-jalan ke Hong Kong berasa ada yang kurang ya, kalau tidak mencicipi kuliner terkenal yang satu ini, yaitu dimsum. Kali ini pilihan kami jatuh ke Tim Ho Wan.

Tim Ho Wan sendiri memiliki beberapa outlet di Hong Kong (HK). Supaya tidak ribet kita langsung aja milih ke IFC Mall tepatnya di Podium level one. Shop 12A di atas area HK MTR Station. Tanya aja security di sana tempatnya kalau bingung. Kami pun melakukannya.. Ha.. Ha.. ha..

Di Tim Ho Wan HK ini siap-siap ngantri ya... Padahal sudah datang cepat-cepat juga. Bagaimana kalau datangnya pas lunch? Antrian bisa tambah panjang ini.

Tim Ho Wan IFC Mall
Jadi begitu datang langsung ada petugas yang mendaftar untuk waiting list, nah selama menunggu itu kita akan diberi secarik kertas berisi menu dan harganya (minta yang pakai bahasa inggris), trus kita isi lalu diserahkan ke petugas tadi.

Terus terang makan di sini tidak bisa santai-santai apalagi mau tambah order pesanan lagi, soalnya antrian di luar sudah panjang. Bayangkan saja baru duduk petugasnya dengan sigap sudah mengeluarkan pesanan kita.

Salah satu menu yang kami pesan
Yang terjadi setelah makan kita pun saling berpandangan.. Mau lagi? Ayo cari tempat lain saja.. Ha.. ha.. ha..(Antisipasi kalau di suruh ngantri lagi). Bahkan sampai kami selesai makan pun antrian masih tetap panjang.

Yang ngantri masih banyak
Rencananya entar sore mau ngemil dimsum lagi di tempat lain sekalian jelajah Hong Kong malam hari, jadi siang ini balik ke hotel dulu untuk istirahat.

Setelah istirahat, ayo kita ngemil di One Dim Sum. Nah kalau yang ini lokasinya lebih mudah dicari yaitu dekat MTR Prince Edward.

One Dim Sum
Waktu datang sempat nunggu sebentar sih nggak terlalu lama. Enak nggak? Hmm enak banget beda rasanya dengan yang lainnya. harganya juga termasuk murah untuk restoran di Hong Kong.

Tempatnya sih nggak terlalu besar dengan meja-meja yang banyak, jadinya ya itu agak kesempitan duduknya. Kalau jalan nyenggol-nyenggol dikitlah. Ha.. ha.. ha..

Dalam One Dim Sum Resto
Setelah kenyang yuk langsung jalan-jalan ke Ladies Market ceritanya mau shopping cuci-cuci mata. Aduh ramainya...

Keramaian di Ladies Market
Dari Ladies Market, yuk cari makan malam. Di mana ya? Di Cafe de Coral aja. Biasanya kalau ke Hong Kong tempat makan ini menjadi salah satu tempat yang biasanya kami kunjungi. Kabar baiknya, Cafe de Coral ini punya banyak cabang jadi tinggal pilih saja. Kami pilih yang di cabang Chungking Mansion, pulangnya jadi bisa jalan kaki ke hotel. Porsi di sini lumayan besar juga jadi bisa saling sharing. Harganya juga terjangkau dibandingkan harga makanan pada umumnya di Hong Kong.

Setelah kenyang, kita siap-siap jalan kaki pulang ke hotel tapi tergoda juga lihat Hui Lao Shan yang ramai pengunjung. Hui Lao Shan ini punya banyak sekali outlet dan spesialisasinya aneka dessert yang terbuat dari mangga. Akhirnya kita pun mampir pesan Mango Romance yang terdiri dari mango ice cream, mango soup dan mango mochi. Hmm segar...

Pesanan Mango Romance
Ada juga tempat makan enak yang lain dengan harga yang tidak terlalu mahal untuk ukuran kuliner di Hong Kong yaitu Tsui Wah Restaurant. Resto ini juga banyak cabangnya. Kalau kebetulan sedang ada di The Peak Tower,  bolehlah singgah untuk cobain menu di Tsui Wah ini, tentu saja selain foto-foto di Madame Tussauds dan The Peak Sky Terrace 428.

Kami juga sudah mencoba makanan di Tsui Wah resto cabang ke-2 di Carnarvon Road daerah Tsim Sha Tsui, karena kebetulan berdekatan juga dengan hotel jadi bisa jalan kaki.

Untuk dessert boleh tuh cobain Yee Shun Milk Company di daerah Yau Ma Tei dekat MTR-nya (lupa exit berapa). Dapat tempat ini juga karena kebetulan salah jalan. Ha.. ha.. ha.. Tapi enak kok untuk ngemil. Steamed Milk-nya enak banget.. serius! Di Senado Square Macau juga ada cabang-nya...

Kalau mau cobain Mc. Donalds, KFC dan Pizza Hut di HK juga ada. Biasalah sama aja kok dimana-mana..

Ada lagi tempat makan yang keren yaitu Jumbo Kingdom yang terdiri dari dua kapal apung besar yaitu Jumbo Floating Restaurant dan Tai Pak Floating Restaurant. Sudah coba lunch di Jumbo Floating Restaurant waktu jalan-jalan ke Hong Kong beberapa tahun yang lalu. Restoran ini ceritanya cukup terkenal di Hong Kong. Makanan yang disediakan adalah chinese cuisine, dimsum dan European Food dengan menu andalannya seafood. Lumayan enak juga sih.

Untuk ke Jumbo Floating Resto kita ke Pelabuhan Aberdeen terlebih dahulu lalu jalan menuju dermaganya, kemudian menumpang kapal kayu gratis yang akan membawa kita ke restoran tersebut.

Happy Culinary

Rabu, 22 Februari 2017

Tim Ho Wan Yuuuk!

Horee.. Tim Ho Wan buka cabang di Jakarta, mampir yuuk! Eits tunggu dulu harus ada alasan untuk makan banyak dan keluar uang agak berlebih untuk kuliner. Jadi kapan ya? Asyik ternyata alasan untuk mampir ke sana saat Jeremy ulang tahun bulan September 2016.

Tahu tentang Tim Ho Wan itu sebenarnya saat nge-dimsum di Hong Kong. Enak banget!
Baiklah mari kita kesana. Letaknya di Ruko Crown Golf, Blok D no. 8-10 daerah Pantai Indah Kapuk. Ayo nge-dimsum jangan lupa bandingkan rasa dan harganya.

Tempatnya besar dan luas jadi lumayan nyaman juga. Makan bisa sambil santai-santai karena nggak ada antrian sama sekali. Pelayannya slow respon dipanggil agak lama baru muncul. Mari kita lihat menu dan pilih makanannya.

Dalam resto-nya. Jeremy nampak gelisah kelaparan
Kami pesan agak banyak di sini soalnya dari pengalaman di Hong Kong pesan 5 macam aja berasa kurang. Lagi asyik makan tiba-tiba Albert si sulung nyeletuk "Agak beda ya rasanya dengan di Hong Kong". Sepertinya sih iya.






Emang benar sih kata Albert. Yang paling bisa nyamain rasanya dan memang enak di sini yaitu bakpaonya, yang lain sih biasa saja. Jadi soal harga untuk dimsum di Indonesia ini sih termasuk tidak murah juga. Katanya sih resto ini dapat Michelin Star semacam penghargaan dalam bidang kuliner.

Pork Bun BBQ
Karena ini ulang tahun Jeremy dan kebetulan dia doyan makan bakmie, maka anggaplah Jeremy sedang menikmati mie ulang tahunnya.

Happy Birthday Jeremy!
Karena Tim Ho Wan berasal dari Hong Kong nanti saya ceritain di postingan selanjutnya ya! 

Happy Culinary


Minggu, 19 Februari 2017

Dari Martabak Queen Ke Markobar Sampai Martabucks, Enak Nggak Ya?

Siapa yang suka martabak? Mau martabak manis yang biasa disebut terang bulan atau martabak telur yang isinya adonan daging? Beli atau bikin sendiri saja ya? Ha.. ha.. ha..

Ceritanya ada martabak yang baru buka cabang di daerah Citra Raya Tangerang namanya Martabak Queen, antriannya ramai bikin penasaran. Ikutan cobain ah.. Biasanya kalau baru buka suka ramai gitu deh. Yuk singgah beli mumpung ada promosi.


Iseng lihat-lihat si abang pembuatnya bikin, kalau kata Albert mau curi ilmu cara menghias martabak (Apa coba maksudnya?) Tapi nggak apa-apalah namanya juga anak-anak. Fotoin dulu si abang...

Menghias martabak pesanan orang
Martabak Queen ini banyak juga cabangnya, sistemnya franchise. Ada yang sampai 16 rasa, martabak telurnya pakai keju mozarella yang menggugah selera dan ada juga red velvet yang menjadi menu andalan mereka.

Dipajang foto martabak andalan
Yang kami pesan dan cobain cukup tiga macam saja yaitu Red Velvet Oreo Cream Cheese, Martabak Pokemon, dan Martabak telur Mozarella Cheese. Sebelum dimakan, foto dulu dong ikutan kekinian (diprotes kids yang sudah bersiap-siap dengan piring dan garpu).

Red velvet oreo cream cheese

Mozzarella Cheese

Martabak Pokemon
Kalau tertarik mau pesan dan cobain enak apa nggaknya silahkan...(Harga di bulan Februari 2017)


Soal rasa Martabak Queen bagaimana? Karena sudah lama kami tidak makan martabak, jadi ada yang jawab enak dan harganya terjangkau, bisa dilangganin dan ada juga yang bilang "hmm enak sekali harus sering-sering beli". Nah jawaban yang sering-sering beli itu yang bikin saya agak keberatan. Ha.. ha.. ha..

Beralih lagi ke tempat martabak lainnya. Kali ini waktu jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta bulan Juni 2016 ketemu dengan yang namanya Markobar yang kebetulan buka stand di situ. Lumayan ramai pengunjung juga, apalagi waktu itu baru-baru bergaung nama martabaknya di Jakarta yang merupakan cabang dari Solo. Kan ceritanya yang buka usaha putra sulung Presiden Jokowi. Jadi penasaran juga mau cobain. Saya lagi mikir kalau yang buka usaha orang 'biasa' apakah saya masih minat untuk mencobanya? Ha.. ha.. ha..

Di Markobar ini kita coba pesan martabak terang bulan andalan mereka yang berbentuk seperti pizza dengan 8 jenis toping rasa mulai dari rasa ovomaltine, matcha hingga coklat toblerone. Sebelum mulai jalan-jalan keliling PRJ foto dulu dong martabak 8 rasanya soalnya mau cobain entar di rumah.


Soal rasa bagaimana? Kalau menurut saya sih enak tapi masih dalam kategori enak biasa nggak sampai bikin kangen-kangen bagaimana gitu loh. Cuma kelebihannya di topping-nya yang royal tidak pelit. Bolehlah kalau mau mencoba!

Sekarang beralih lagi ke Martabucks yang ceritanya hasil kerjasama seleb Uya Kuya dan Luna Maya, cobain-nya waktu itu di Maze Market. Kebetulan aja lihatnya ada stand di situ, jadi iseng cobain. Stand-nya terlihat sepi, mungkin karena memang di Maze Marketnya sendiri juga sepi. Saya bingung konsep tempat kuliner Maze Market itu apa. Sayang sekali tempat yang begitu luas tapi tidak terlalu ramai pengunjung. Padahal waktu kami datang di saat weekend loh, pada bulan Oktober 2016.

Karena penasaran jadi kita cobain aja langsung...





Soal rasa bagaimana? Boleh-lah dilangganin lumayan enak kok. Komentar Albert katanya lebih enak dari martabak yang sering kita beli dekat rumah. Ya iya-lah bandinginnya sama martabak yang ceritanya belum ada 'nama'. Ha.. ha.. ha..

Di Maze Market bingung mau makan apa? pas lihat ada bakmi RN yang ceritanya pemiliknya seleb juga yaitu pasangan artis Raffi Ahmad dan Nagita kita langsung mutusin untuk cobain, dengan pemikiran mereka pasti jaga nama dong...

Makan Bakmi RN
Soal rasa bagaimana? Serasa seperti makan pop mie saja... Ha.. ha.. ha.. (perhatikan mangkuk plastiknya) Kalau saya bilang sih rasa bakminya lumayan enak tapi porsinya aja yang sedikit.


Happy Culinary

Rabu, 15 Februari 2017

Amazing Valentine 2017

Happy Valentine everyone!! Anggap aja ya semua orang merayakan hari kasih sayang secara positif. Nah pada hari Valentine keluarga kami juga ceritanya ikut ngerayain. Sisi positifnya kita sepakat pada hari itu tidak ada yang marah-marah, ngambek dan harus sadar diri dengan kewajiban masing-masing sebagai bagian anggota keluarga.

Ngerayain ala keluarga kami sih biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini giliran Jeremy beli coklat dan Albert ikut patungan beli kue Valentine-nya (dananya dari uang jajan dan sisa angpao).

Mari kita beli kue dan coklatnya! Beli di The Harvest Flavor Bliss aja...



Setelah itu masuk sesi foto...



Tapi sebelumnya kami dinner dulu di The Holy Crab yang merupakan salah satu resto di area Flavor Bliss Alam Sutra.


Mari masuk dan seperti biasa pesan makanan! The Holy Crab ini ceritanya makanan langsung disajikan di atas meja yang diberi lapisan kertas minyak tanpa piring maupun sendok garpu tapi disediakan alat bantu (gunting) untuk membuka cangkang kepiting. 

Karena perayaan Valentine, boleh dong cobain signature dish alias masakan andalan mereka yaitu Alaskan King Crab, yang akhirnya pada waktu bayar bill, David terkejut setengah mati melihat bill-nya. Ha.. ha.. ha.. Kalau menu yang lainnya sih harganya masih bisa dibandingkan dengan resto-resto sejenis.



Karena hari ini lagi Valentine maka diberikanlah dessert coklat secara gratis. Kami juga diminta untuk tulis review di Zomato dan diberikan voucher 200 ribu dari The Holy Crab.

Dessert Valentine ala The Holy Crab
Bicara tentang Valentine, ternyata waktunya pernah loh bersamaan dengan Imlek di tahun 2010 jadi nuansa Imlek yang penuh cinta. Apalagi waktu itu adiknya David dan istrinya baru saja menikah 3 atau 4 bulan sebelumnya, jadi suasana cinta ceritanya masih ada...

Valentine 2010
Merayakan Imlek dan Valentine 2010
Masih teringat saat anak-anak pertama kali merayakan Valentine bersama kami.

Albert's first Valentine 2006
Jeremy's first Valentine 2012
Biasanya kami merayakan dengan dinner bersama di restoran...

Valentine 2015 di HolyCow
Terkadang juga masak sendiri di rumah...


Wajib foto di nuansa penuh cinta berdua saja...


Waktu belum nikah alias masih pacaran biasanya suka dikirimin kartu Valentine pakai pos, acaranya paling dinner dan tukaran kado berdua. Kalau anak-anak sih suka bikinin kartu yang mereka tulis sendiri yang intinya sayang pada papa dan mama serta berharap kami berdua selalu sehat dan panjang umur...


Setiap tahun kami rayakan dengan penuh cinta...





Kalau dibilang Valentine ini memang bukan sesuatu hal yang wajib dirayakan memang ada benarnya juga. Bagi kami sih ini hanya sekedar mengingatkan bahwa kami saling memiliki dan menyayangi satu dengan yang lainnya. Jadi sebagai momen peringatan saja dan kumpulan koleksi foto yang bisa mengingatkan kenangan-kenangan indah yang sudah kita lalui bersama.

Tapi banyak juga kok yang menjadikan momen Valentine sebagai ajang memberikan hadiah pada pasangan, menjadikan sebagai hari pernikahan sebagai momen cinta dan anak-anak muda ajang untuk menyatakan perasaan hati kepada calon pacar. Tetap berpikir positif ya!! 


Just Sharing

Minggu, 05 Februari 2017

Coffee Break Gratis

Gratis? Bagaimana ceritanya bisa gratis? Simak yuuuk!

Jadi dalam perjalanan dari Pura Ulun Danu di daerah Bedugul ada plang yang menarik perhatian kami bertuliskan Coffee Break. Atas rekomendasi supir mobil rental yang kami sewa selama di Bali kami pun singgah sebentar karena penasaran.

Sampai di sana kami disambut seorang gadis Bali yang akan menjadi pemandu kami.

Jadi di Coffee Break ini lebih difokuskan pada proses pembuatan kopi Luwak. Di sini kita dijelaskan mulai dari saat penanaman, proses produksi hingga produk jadi yang siap dinikmati.

Kopi Luwak
Si pemandu akan menuntun kita menelusuri perkebunan kopi robusta dan arabika sebagai bahan baku kopi luwak. Di sana kita akan diterangkan tentang spesifikasi dan karakter masing-masing jenis kopi yang ditanam di sana.

Tanaman Kopi
Perjalanan dilanjutkan ke lokasi produksi berupa kandang binatang luwak yang terbuat dari anyaman kawat. Luwak termasuk binatang malam, jadi di siang hari ini mereka sedang tidur di dalam sarang.

Kandang Luwak di belakang Albert
Ceritanya buah-buah kopi arabica yang telah benar-benar matang (ditandai dengan kulit buah berwarna merah) diberikan sebagai makanan untuk luwak, untuk mempercepat proses pengeluaran kotoran oleh luwak biasa ditambahkan juga sedikit pepaya. Buah-buah kopi akan dicerna oleh enzim pencernaan yang ada di perut luwak. Proses fermentasi alami yang terjadi di sistem pencernaan luwak itulah yang akan menjadikan kopi arabica menjadi kopi luwak yang berkualitas tinggi dan berharga sangat mahal.

Selama dicerna di perut luwak, biji-biji kopi tidak hancur. Nantinya akan utuh keluar bersama kotoran luwak. Kotoran ditampung. Biji-biji kopi yang keluar bersama kotoran pun dicuci bersih.

O ya jenis kopi yang dipakai katanya biasanya kopi arabica soalnya luwak hanya mau makan kopi jenis arabica yang berbau harum dan manis tak mau jenis kopi lain.

Proses berikutnya adalah pengeringan biji kopi dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Biji-biji kopi yang telah kering kemudian disangrai (digoreng tanpa minyak) hingga berubah warna menjadi kehitaman.


Kopi Luwak yang dikeringkan

Poses berikutnya ditumbuk di lesung yang terbuat dari batu. Kopi yang telah halus selanjutnya diayak. Nah di tahapan ini kids mulai nggak betah. Padahal sebelumnya mereka antusias banget malah kelihatannya tadi pengen coba-coba numbuk dan ayak. Penyebabnya gara-gara ibu-ibu yang lagi numbuk dan ayak iseng godain kids, jadinya langsung aja mereka berdua ngacir. Ha.. ha.. ha.. ya sudahlah tinggalkan saja itu ibu-ibu rumpi...

Nah sekarang saatnya kita untuk icip-icip gratis. Banyak toples-toples berisi berbagai jenis kopi yang sudah dimodifikasi. Tertulis nama di masing-masing toples kita tinggal minta yang mana yang mau kita coba entar pemandu yang tadi nemenin yang bikinin. Karena cuma mau coba-cobain macam-macam kopi jadi setiap cangkir saya minta dibikinin setengah cangkir saja. entar tinggal tukar-tukaran nyobain. Jadi yang kami coba antara lain : chocolate coffee, vanila cofffe, coconut coffee, white chocolate, ginger coffee dan cinnamon tea. Yang tersedia sih sepertinya di atas 10 toples. Mana sanggup lah kami cobain satu-satu.

Untuk membandingkan rasa kopi-kopi ini kita pun minta dibuatin kopi luwak. nah khusus untuk icip-icip kopi luwak Bali ini memang tidak gratis secangkir dihargai Rp 60.000.

Setelah itu oleh pemandu kami diajak ke Coffee Shop yang menyediakan produk seperti kopi bubuk dan lainnya. Kami sih tidak lama di toko ini. Akhirnya kami pun pulang tanpa membawa buah tangan dari toko ini.

Happy Culinary