Tampilkan postingan dengan label Wisata Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Papua. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Maret 2017

Setahun di Timika

Timika merupakan salah satu pintu masuk (entry point) ke wilayah Papua bagian tengah. Mendengar nama kota Timika saja pikiran kita langsung melayang ke suatu perusahaan tambang tembaga dan emas milik PT Freeport Indonesia (anak perusahaan dari perusahaan pertambangan Amerika Serikat, Freeport McMoRan Copper and Gold, Inc.) yang berpusat di Tembagapura, sekitar 60 km di utara Timika.

Kawasan pertambangan PT Freeport sendiri bukan lokasi wisata, jadi bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk, kecuali yang memang mendapat undangan khusus. Tapi kita boleh kok masuk ke Kuala Kencana yang sudah maju dan modern yang secara administratif masuk ke distrik Mimika.


Lingkungan di Kuala Kencana sangat kontras jika dibandingkan dengan Kota Timika. Begitu masuk ke Kuala Kencana akan terlihat suasana yang nyaman, bersih dan teratur, juga dengan fasilitas yang cukup lengkap bagi karyawan Freeport dan keluarganya. Enak banget ya?

Bagaimana dengan kami? Kami sih tidak tinggal di Kuala Kencana karena memang bukan karyawan Freeport jadi boro-boro bisa menikmati fasilitas yang disediakan... Kan datang ke Timika dan tinggal selama setahun itu untuk tugas pengabdian.. Hiks.. Ayo semangat! Janganlah jemu-jemu berbuat baik.


Jadi masyarakat suku asli Papua ternyata sangat heterogen. Di daerah sekitar Timika, ada 7 suku yang terbesar, yang lazimnya disebut sebagai “masyarakat tujuh suku”, yang terdiri dari suku Dani, Damal, Mee, Moni, Amungme, Komoro, dan Nduga. Bila kita ingin melihat masyarakat suku asli Papua yang masih sangat tradisional, kita bisa pergi ke wilayah Lembah Baliem, yang meliputi kawasan sepanjang 60 km dan lebar 16 km, serta berada pada ketinggian 1554 meter di atas permukaan laut.

Setelah mempelajari sedikit hal-hal tentang Timika, kami sekeluarga pun memberanikan diri untuk pindah dan tinggal selama setahun disana... Timika, We're Coming!!!


Di Timika ini, kami sempat tinggal selama satu tahun terhitung dari bulan September 2008 sampai bulan September 2009. Secara umum sih suhu udara pada siang hari sangat panas tetapi pada malam hari cukup dingin. Suhu udara bisa turun hingga 12 derajat Celcius pada malam harinya. Cukup extrim ya? 

Sudah itu sering banget mati lampu hampir setiap hari, kayaknya sih PLN disana kalau sudah matiin lampu suka lupa dinyalakan lagi... Lama banget nyalainnya! Serius! kita jadi hidup dalam kegelapan dan kepanasan sangat menderita *lebay... Ha.. ha.. ha..

Pernah pula ngalamin rumah dibobol maling, yang herannya saat itu maling masuk, kita tetap tidur dengan nyenyak tanpa terganggu sedikitpun. Tahu kemalingan saat bangun dan lihat pintu rumah sudah terbuka dan kuncinya rusak. Tetap bersyukur dong kita selamat.. Thanks God..

Tapi jangan lupa juga dengan hal-hal baik yang kami alami selama tinggal di sana, kan waktu terus berjalan, seperti merayakan Natal 2008 di Timika dengan masak sendiri hidangan istimewa ala saya. Baru kemudian Tahun Baru 2009 kami merayakannya bersama keluarga di Jayapura sekalian jalan-jalan..

Natal 2008 bersama
Tidak terasa Albert saat itu pun berusia 4 tahun dan kami rayakan secara sederhana dengan mengundang anak-anak tetangga dekat rumah. Aduh senangnya!

Happy 4th Birthday
Setiap perayaan ulang tahun kami rayakan dengan penuh sukacita. Tiba saatnya David merayakan ultahnya yang hanya berselang lima hari dengan wedding anniversary kami yang ke-6. C'mon kita rayakan dari birthday dulu makan di resto Dapoer Mama dan Anniversary-nya beli kue di So Yummy.

Happy Birthday Darling

6th Wedding Anniversary
Bulan depannya giliran saya dong. Happy birthday to me! Thanks hubby and son, perencanaan yang super mantap. Dibeliin kue dan diajak makan di resto Hotel Rimba Papua, love u all. Kok nggak sekalian nginap ya? Ha.. ha.. ha..



Hotel Rimba Papua
Untuk hiburan anak-anak ada sebuah mall kecil yang berisi supermarket, toko elektronik dan tempat jualan DVD bajakan dan di lantai dua ada arena bermain anak. Ayo sayang kita main! Goyang-goyang badan dulu supaya senang. Ha.. ha.. ha..



Finally tanpa terasa setahun sudah kami lalui di Timika.. Tetap bersyukur hingga saat ini..

Bye-bye Timika

Wonderful Indonesia

Jumat, 24 Maret 2017

Past Holiday In Jayapura

Mau jalan-jalan ke Jayapura? Tentu saja, sepertinya sih memang harus apalagi kalau bawa anak untuk mengunjungi opa dan omanya yang tinggal di Distrik Hamadi, kira-kira setengah jam perjalanan dari Kota Jayapura. Kami memilih untuk datang berkunjung di minggu terakhir bulan Desember 2008 sekalian untuk merayakan Natal dan menyambut Tahun Baru 2009. Berangkatnya dari Timika tempat kami tinggal selama setahun di sana.

Bandar Udara Sentani
Rumah kami di Jayapura terletak tidak jauh dari Pantai Hamadi, yang pada masa Perang Dunia II dikenal sebagai tempat pendaratan tank amfibi pasukan Sekutu pada tanggal 22 April 1944. Untuk membeli suvenir kerajinan tangan ataupun barang-barang seni Baliem dan Asmat, kita dapat mampir sebentar di kios-kios penjual cenderamata di Pasar Hamadi.

Tidak mau melewatkan kesempatan, kami mengunjungi Puncak Ifar gunung, di mana di puncaknya terdapat Tugu Mac Arthur dengan latar belakang pemandangan yang sangat mengesankan. Monumen Mac Arthur merupakan simbol bangsa Amerika dan angkatan bersenjata Sekutu yang berkuasa di Papua pada waktu itu, di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur pada Perang Dunia II. Pada waktu itu, sang jenderal membangun Markas Besar Perang Pasifik Barat di Hollandia (sekarang Jayapura). Monumen tersebut dibangun untuk memperingati keberhasilan Jenderal Mac Arthur dengan sumpahnya yang terkenal “Saya akan kembali”, yang dipahat pada kaki monumen.

Tugu Mac Arthur
Kita dapat menikmati keindahan Danau Sentani dari puncak Ifar gunung. Danau Sentani merupakan danau alam dengan pulau-pulau yang berbukit-bukit di tengah-tengah danau. Di lokasi danau ini juga terdapat pemandangan alam yang indah, dengan beberapa tempat pemancingan yang dilengkapi pondok-pondok yang berbentuk panggung. Di sini banyak ditemukan ikan-ikan yang masih segar.

View Danau Sentani dari Ifar gunung
Setelah menikmati sejarah dan indahnya pemandangan alam dari puncak bukit. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan RI-PNG yaitu Desa Wutung, pura-puranya mau ke luar negeri tapi tanpa paspor hanya wajib lapor saja. Asyik bisa ke luar negeri!! Walaupun hanya di perbatasan saja...

Shopping dulu dah produk khasnya, kan kurang afdol rasanya jalan-jalan tanpa membeli buah tangan khas sana apalagi sedang berada di luar negeri. Apa kata dunia?? Ha.. ha.. ha.. Kesukaan saya sedari kecil ya twisties semacam cemilan kriuk-kriuk kayak chiki, tapi serius enakan twisties yang memang produk buatan Papua New Guinea (PNG). Beli sendiri saja ya kalau sempat mampir ke sana!



Malam Tahun Baru di Jayapura cukup meriah. Kita dapat mendengar bunyi petasan dan melihat kembang api yang dinyalakan dari rumah-rumah berganti-gantian. Sebelumnya kami ke gereja sekeluarga ikut ibadah tutup tahun dan saling mengucapkan :

Merry Christmas 2008
&;
 Happy New Year 2009

Ibadah Tutup Tahun Bersama Keluarga Dalam Tuhan