Selasa, 20 Desember 2016

Mau dong ke Tanjung Lesung

Dari Coconut Island Carita kami melanjutkan perjalanan menuju ke Tanjung Lesung dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Saat dalam perjalanan ke Tanjung Lesung, hujan sudah berhenti dan cuaca agak cerah.

Di Tanjung Lesung ini kami akan menginap di Tanjung Lesung Beach Hotel yang sudah kami booking terlebih dahulu via booking.com yang kebetulan lagi promo. Sebelum check in, saya menyempatkan diri mampir sebentar beli gantungan kunci berbentuk badak bercula satu yang ada tulisan Tanjung Lesung di toko souvenir hotel.

Setelah check in kami diantar ke kamar dengan mobil golf.

Di hotel inilah kami menginap

Deretan hotelnya

Mobil golf sebagai transportasi
Sampai di kamar atur-atur barang sebentar, lalu bersiap-siap untuk ke Beach Club mau main water sports, kami berjalan kaki menyusuri pantai, lalu sampai di Beach Club sekitar setengah jam jalan kaki.

Kami berjalan-jalan melihat pantai yang ombaknya lumayan besar, sambil foto-foto sepanjang perjalanan. Banyak juga spot-spot menarik untuk berfoto jadi tidak berasa capek malahan senang





Sampai di Beach Club kami menuju ke loket watersport, ngobrol-ngobrol di sana sambil melihat harga paket yang ditawarkan. Hmm lumayan mahal juga sih, tidak masuk budget nih. Saya sampai nanya ke bapak-bapak petugas loket, "Kok mahal sih Pak sekarang?" Kemudian si Bapak menjawab "Iya Bu, ini baru dinaikkan, sudah 4 bulananlah harganya".

Trus dia cerita juga di bulan Desember ini susah banget jual paket watersport karena cuaca yang tidak mendukung dan ombaknya lagi besar, tamu-tamu hotel dan villa jadi tidak nyaman kalau mau main.
Si Bapak juga menambahkan, itu jembatan putih tempat biasa dipakai foto-foto juga sudah rusak diterjang ombak di bulan Agustus lalu jadi sekalian dihancurkan saja demi keamanan, si Bapak menawarkan kami besok datang lagi untuk main, saya sih cuma bilang "Lihat kondisi besok aja Pak"

Rencana awalnya mau naik banana boat atau slider boat, ternyata hitungan seorang kena Rp. 110.000,- sedangkan kami berempat, lumayan mahalkan?

Karena sudah jam 5-an kami berencana balik ke hotel jadi minta tolong dipanggilkan mobil shuttle untuk menjemput kami di Beach Club. Sambil menunggu jemputan, kami foto-foto lagi sebentar.





Setelah dijemput pakai mobil shuttle kami diantar ke lobby, karena Albert nggak mau jalan kaki jadilah kami diantar naik mobil golf lagi ke kamar.. Hmm pelayanan yang baik sekali. Di kamar kami beristirahat sebentar.

Makan malam di restoran hotel saja, tinggal tanya sama mas-nya mana yang enak. Rekomendasi dia Nasi Goreng Tanjung Lesung, jadi saya pesan sesuai rekomendasi dia saja. Yang lain masing-masing pesan paket ikan bakar. Harganya sesuai standar hotel ya.

Setelah kenyang kids diajak main bilyard yang kebetulan ada dekat restoran hotel. Kami tanya apakah boleh main bilyard free ataukah mesti bayar. Karena diperbolehkan main bilyard free oleh  pegawai hotel, kami pun main-main iseng sebentar. Setelah puas kami kembali ke kamar untuk istirahat.

Belajar dari pakar ya?
Besok pagi saat bangun hujan turun lagi, tapi untung cuma sebentar, jadi kami bisa jalan kaki untuk breakfast dan main-main di private beachnya. Pantainya bagus dan pasirnya putih nampak terawat sekali. Kami jalan-jalan menikmati udara segar dengan pemandangan yang indah, kegiatan terakhir Albert dan Jeremy nyemplung di infinity pool-nya.

Mengukir nama di pantai Tanjung Lesung
Setelah puas di Tanjung lesung beach kami pun siap-siap memulai petualangan baru menuju Archipelago Beach.
Baca di Archipelago Beach Rupanya keren.. see you..

Wonderful Indonesia

Senin, 19 Desember 2016

Coconut Island Pulau tanpa Kelapa

Yihaa... tibalah saatnya untuk berlibur, kami memulai perjalanan liburan hari pertama ini menuju Coconut Island Carita melalui jalur Pandeglang sebelumnya singgah sebentar di toko roti untuk membeli sedikit cemilan untuk bekal perjalanan.

Tiba di Coconut Island kira-kira jam 12.30, karena waktu check in mulai jam 2 siang kami dipersilahkan menunggu sambil makan siang di Bistro (restoran), hidangan yang sudah disiapkan adalah ayam goreng mentega, omelet telur, ikan goreng, soto ayam dan sambal dabu-dabu. Yang memang enak sih soto ayamnya.

Setelah kenyang kami menuju ke mobil untuk mengambil barang bersama porter yang akan membantu mengangkat tas kami, dia juga yang bantuin kami foto didepan tulisan Coconut Island.
Ramai sekali hari itu, ada beberapa bis besar yang berada di parkiran. Katanya sih ada gathering perusahaan.


Kami diantar menuju kamar yang akan kami tempati bentuknya seperti saung bambu, karena memang saat booking dibilang kami cocok di Saung Bambu yang muat untuk 4 orang, kalau Saung Pinang katanya muat untuk 2 orang, padahal sih sebenarnya sama saja dindingnya juga dari bambu cuma Saung Pinang lebih kecil, itulah type kamar di Coconut Island yang cuma ada 2 pilihan.

Sampai di Saung Bambu, kami tidak terlalu memperhatikan detailnya karena mau cepat-cepat berenang. Jeremy maksa harus cepat-cepat renang. Setelah berganti baju renang kami langsung jalan kaki menuju kolam renang.

Deretan Saung Bambu
Kolam renangnya sih biasa saja malah cenderung kecil, hampir tidak ada yang istimewa. Di situ hanya punya satu permainan air yaitu waterslide. Ramai benar hari itu, saat kami mau menyewa ban ternyata sudah habis tersewa semua.

Ya sudahlah kami pun masuk ke dalam kolam yang sudah penuh orang. Tiba-tiba ada anak kecil seumuran Albert datang nyamperin ngasih ban trus bilang "pakai saja", oke deh ma kasih ya..

Kami berenang sambil naik di atas ban, karena ramai jadi kepentok sana sini bannya sama yang lain.
David dan Albert ikut nyobain waterslide, saya dan Jeremy tetap santai di atas ban.

Kami agak lama di dalam kolam renang karena Jeremy masih betah main air, padahal benar-benar sudah bosan loh.





Lagi mikir "kayaknya ada yang salah dengan tempat ini"
Setelah puas kami pun berjalan kaki menuju Saung Bambu, sempat lihat ada juga permainan ATV. sampai di kamar, kami ngantri mandi bergantian. Setelah bersih dan kering kami pun beristirahat sebentar.

Sepertinya konsep dari Saung Bambu ini dibuat dengan suasana pedesaan tapi bukan di tepi sawah melainkan di pinggir pantai, tidurnya pun di atas matras ala tatami ditutupin kelambu, di depannya ada teras yang bisa dipasang matras untuk santai-santai. Di sini pastinya tidak disediakan televisi ya. Suasananya agak gelap dalam kamar apalagi waktu malam.

Tidur di matras ala tatami

Teras tempat bersantai
Karena sudah waktunya makan malam dan perut juga sudah lapar kami pun berjalan kaki menuju Bistro. Menu yang disediakan ala bakar-bakaran, ada ikan bakar, ayam bakar, cumi bakar, tumis kangkung, tempe goreng, sambel mata dan sambel kecap, dessertnya es krim tape. Hmm lumayan enak sih. setelah kenyang kami iseng-iseng foto depan bistronya, jalan-jalan sebentar ditengah kegelapan malam yang sebenarnya sih nyasar, sampai saung langsung cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan bersiap tidur ditemenin suara jangkrik dan deburan ombak.

Kalau minat bisa booking di : Coconut Island Carita
Jl. Raya Carita Labuan, KM 3,8, Caringin, Pandeglang
Telpon : (0253) 805600

Keesokan harinya saat kami bangun, ternyata lagi hujan deras. Mikir juga sih bagaimana caranya ke Bistro untuk breakfast, akhirnya telpon receptionist minta dibawain payung, ternyata katanya payungnya banyak yang rusak tapi dia bilang entar mau koordinasi dengan bagian dapur untuk mengantarkan sarapan kami ke saung. Ya sudahlah kalau maunya begitu kami tunggu ya..

Akhirnya hujan pun berhenti, tapi kok breakfast kami belum diantar, ternyata.. oh.. ternyata.. datanglah salah satu pegawai bistro yang akan menjemput kami untuk jalan kaki bersama ke Bistro, karena breakfast sudah siap.

Setelah breakfast dan cuaca cukup cerah, kami putuskan mau langsung lihat-lihat pantainya, pantainya sih biasa saja, tidak bisa di pakai untuk berenang hanya main pasir saja. Tetapi
baru saja sampai pantainya tiba-tiba bertiup angin kencang menandakan mau hujan lagi. Jeremy pun teriak "ada badai"... dan kami pun berlarian bersama tamu-tamu lain menuju saung masing-masing.

Pantai di Coconut Island sesaat sebelum hujan
Waduh ini hujan berhenti sebentar supaya kami bisa makan pagi kayaknya. Ya sudahlah tunggu hujan berhenti di kamar sambil beres-beres dan ngantri mandi.

Sampai siang belum ada tanda-tanda hujan mau berhenti, kami putuskan tetap check out saja, telpon receptionist minta diantar pakai mobil operasional menuju ke mobil kami di area parkiran, semua tamu saung pun melakukan hal yang sama.

Yang menyenangkan dari Coconut Island ini adalah pegawai-pegawainya yang super duper ramah, fast response dan makanannya lumayan enak (katanya sih makanannya tergantung chef nya)

Karena sudah siang kami berencana mau lunch dulu di RM. Bu Entin cabang Labuan, yang kebetulan dekat dengan Coconut Island kurang lebih 10 menit perjalanan.

RM. Bu Entin ini ramai juga pengunjungnya, hidangannya sudah disediakan di atas meja tinggal mereka nambahin ikan bakar, udang bakar, ayam bakar dan lain-lain yang katanya baru dibakar, tapi kok sudah dingin ya?? Konsepnya dihidangkan ala restoran padang gitu deh.

Tiba-tiba terdengar suara dari meja seberang yang teriak bilang "Ini gelasnya diganti ya, sudah dilalerin" saya yang dari awal sudah tidak nafsu makan langsung saja tambah susah telan nasinya.
Mungkin ini soal selera ya, saya lihat banyak yang makan dengan lahap pakai tangan langsung disuapkan ke mulut, trus waktu mau bayar di kasir ada juga tuh yang pesan otak-otak 50 biji padahal saya tidak cocok selera.

Jadi memang soal selera itu masing-masing ya.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Lesung
Baca ceritanya di Mau dong ke Tanjung Lesung.. see you!!

Wonderful Indonesia

Sabtu, 17 Desember 2016

Dikira Turis Korea Di Monas

Ada istilah mengatakan harus berada pada situasi dan waktu yang tepat, demikian juga soal baju, jangan sampai salah kostum bisa menjadi perhatian orang. Ini yang kami alami pada bulan Februari 2010, rencananya mau jalan-jalan ke Monas ngajak Albert lihat-lihat sambil cerita bahwa di atas puncak Monas ada emasnya loh. Albert yang pada waktu itu masih kecil amat sangat tertarik, kami berduapun sudah lama tidak jalan-jalan ke Monas.

Singkat cerita tiba saatnya hari yang sudah kami rencanakan untuk jalan-jalan ke Monas, saya pikir pakai baju kembaran saja supaya praktis, kebetulan ada tuh kaos Korea yang baru kami beli waktu travelling ke Korea, trus celananya warna hitam dan pakai sepatu kets. Kan entar foto-fotonya jadi semakin mantap tuh hasilnya kompakan gitu deh.

Sampai di Monas, kami berjalan kaki masuk kedalam area Monas, sebenarnya ada mobil wara-wiri juga tapi kami pikir entar pulangnya aja baru naik. Monas waktu itu tidak terlalu ramai pengunjung, enak explore nya. Saat beli tiket masuk, ditanyain sama petugas loket, "Do you need a guide?" Trus dia teriak manggil temannya, kami nolak karena emang nggak butuh, kemudian kami jalan menuju pintu masuk karena ada renovasi kami harus jalan muter arah, waktu mau nanyain satpam lewat mana, ada orang dekatin kami trus ngomong pakai bahasa inggris yang intinya menawarkan diri akan memandu kami. tentu saja kami nolak, wajahnya sempat terkejut kemudian bilang "Oh, orang Indonesia juga?".

Kami explore Monas sambil foto-foto, setelah puas kami berencana mau balik keluar Monas naik mobil wara-wiri, kebetulan disitu juga lagi antri wisatawan Jepang 4 orang yang sudah berumur, mereka tertawa pada kami sambil menganggukkan kepala, kami juga ikutan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Giliran mereka naik wara-wiripun tiba, pas lewat depan kami mereka menyapa sambil menganggukkan kepala trus bilang "anyeong haseyo" sambil tersenyum. Kami langsung bengong dan tersadar, ya ampun rupanya dari tadi kami dikira turis Korea.

David usul kalau mau pakai kaos bercirikan daerah tertentu mending di kotanya atau negaranya sendiri atau bisa juga jangan kembaran, gantian masing-masing orang pakainya di kesempatan lain.





Pada bulan Mei 2013, kami datang lagi mengunjungi Monas, kali ini bersama keluarga besar, kebetulan Papa dan Mama Sandra datang berkunjung ke Jakarta dari Jayapura jadi bisa diajak jalan-jalan melihat ikon kota Jakarta ini, kami janjian dengan koko dan keluarganya bertemu di Monas, klop deh lengkap keluarga kami. Ramai sekali hari ini, bahkan untuk membeli tiket pun harus ngantri, keliling-keliling didalam museumnya, Papa tampak antusias sekali. di halaman depan ada yang bermain sepeda, skateboard dan layangan. Papa menyempatkan diri membeli kaos gambar Monas untuk ke-4 cucunya dan juga untuk saya dan Papa sendiri, yang lain tidak berminat dengan berbagai alasan, setelah puas explore Monas, kami makan bersama di restoran Sunda kayaknya sih Sari Kuring.

Happy together

Monas serasa di genggaman tangan

Papa and me

Jeremy and his uncle

Albert and his uncle

Happy lunch

Monas yang merupakan ikon kota Jakarta ini layaklah untuk dikunjungi sering-sering, bahkan pada saat ada Pekan Raya Jakarta di Monas kami dengan senang hati datang berkunjung untuk makan kerak telur. Bisa juga menambah koleksi foto landmark, nggak kalah loh sama Merlion dan Petronas.

Merlion, Agustus 2010

Merlion, Agustus 2013

Petronas, Agustus 2013
Wonderful Indonesia

Kamis, 15 Desember 2016

Biarlah Menjadi Kenangan

Mengawali Tahun baru di bulan Januari 2008, kami mengisinya dengan berjalan-jalan bersama Papi dan Mami, ternyata Papi menolak diajak ke mall, alasannya bla.. bla.. bla..

Trus dia milih ngajak ke Taman Safari Indonesia (TSI) di daerah Cisarua-Puncak, katanya biar Albert bisa melihat gajah, macan, harimau dan lain-lain.

Akhirnya kami sepakat untuk wisata ke TSI.

Pagi sebelum kami berangkat berpetualang, si Mami sibuk sekali didapur masak-masak mempersiapkan bekal untuk kami makan saat berwisata. juga bilang jangan sampai lupa bawa tikar, entar kita tidak bisa duduk di taman sambil makan. Hmm asyik juga nih makan lesehan suka-suka di area terbuka ada ayam goreng, gepuk, serundeng, tumis kacang panjang dan sambel terasi yang dimasukkan ke dalam rantang susun, juga tidak lupa bawa piring dan sendok secukupnya.

Horee... kami siap berangkat dengan penuh sukacita. Dalam perjalanan kami ngobrol-ngobrol, Papi bilang sudah lama sekali tidak ke Taman safari, Mami menyambung mengatakan mungkin waktu itu anak-anak masih kecil. Kami menikmati perjalanan yang tidak macet sama sekali, lancar sampai tujuan yang sayangnya tiba-tiba turun hujan deras. waduh rencana makan sambil gelar tikar langsung terancam batal, emang batal beneran sih.

Si Mami ngajak makan di mobil, Papi menolak karena takut mobilnya jadi kotor dan bau. Akhirnya kami keliling cari tempat makan untuk lunch sekalian nunggu hujan reda, hmm ramai sekali restorannya.

Setelah hujannya tidak deras lagi, kami jalan-jalan pakai payung, foto-foto dengan gajah sambil berbecek ria. Setelah hujan benar-benar berhenti, kami melanjutkan perjalanan pakai mobil, juga menyempatkan diri melihat beberapa atraksi menarik. setelah puas kami masuk ke area safari track dengan mobil untuk melihat-lihat binatang dan juga memberi makan binatang. Albert yang saat itu berusia 3 tahun sangat menikmati sekali dan tidak mau diam, teriak-teriak sambil nunjuk-nunjuk binatang, sesekali digoda opanya sambil dipangku, pindah lagi ke pangkuan omanya karena tertarik dengan binatang yang bisa dilihat dari samping kaca mobil dekat tempat duduk oma, si Oma menjelaskan dengan sayang dan sabar. Tapi tetap aja kalau mau bobo pindah ke pangkuan mamanya.

Taman Safari Indonesia - Puncak
Setelah puas explore TSI kami hendak pulang ke rumah. Dalam perjalanan Papi tiba-tiba nyeletuk 'Siaw A Tjiap yuk? Papi aja yang nyetir". Baiklah kami lanjutkan perjalanan menuju Restoran Siaw A Tjiap di daerah Glodok, kali ini agak tersendat jalannya sedikit macet.

Mami yang tidak puas sudah bawain makanan tapi belum dimakan, membagikan piring satu persatu, sendokin nasi dan ambilin lauk maksa makan. Papi yang lagi nyetir pun protes tetap takut mobilnya kotor dan bau, tetapi akhirnya menjadi pasrah setelah melihat kami makan dengan sukacita, Papi sendiri tidak mau makan.

Karena masih sore dan lagian juga masih kenyang, kami pun berencana jalan-jalan dulu, Papi ngajak muter-muter Jakarta di daerah Kota, nunjukin sekolah David dari SD sampai SMA, cerita-cerita nostalgia masa lalu keluarga mereka, trus lihat juga rumah lama Papi yang sudah dijual, si Mami bilang rumahnya lokasinya bagus dekat pasar cuma sayangnya sempit. Lanjut jalan-jalan, kita turun dari mobil kemudian jalan kaki masuk ke gang agak sempit ternyata ada yang jualan lo mie, Papi ngajak makan di situ, yang lain protes karena masih kenyang, Papi bilang kalau begitu beli 2 bagi 5 tinggal minta piring kosong aja trus dibagi, kami pun makan tanpa sadar malah minta tambah pangsit, bakso ikan, dan lain-lain.

Setelah kenyang entah itu makan yang keberapa kali, kami jalan-jalan lagi keliling kota Jakarta, terakhir kali tetap dinner di tujuan awal yaitu Siaw A Tjiap, Albert protes keras dia maunya di Eka Ria, untung si opa berhasil membujuknya supaya mau. Makanan di Siaw A Tjiap enak kok sesuai selera kami, sayang itu bangunan tua dan agak kurang terawat, cuma yang bikin illfil yaitu wc nya yang jorok, keluar dari toilet langsung agak-agak kurang nafsu makan gitu deh.
Setelah dinner dan membeli beberapa lauk untuk dibawa pulang, kami pun menyudahi petualangan jalan-jalan kami yang seru ini.

Note :
Terkadang dalam keluarga ada gesekan, ada juga perselisihan, tentu saja karena setiap orang diciptakan Tuhan dengan pribadi yang unik. Saling ketidakcocokan itu bisa menimbulkan pertengkaran antar keluarga, tapi satu hal yang harus kita pelajari yaitu jaga hati, menganggap bahwa setiap masalah ada jalan keluar. Masalah kecil anggap saja tidak ada, masalah besar anggap saja itu masalah kecil (pesan papa saya saat saya menikah)

Kini kedua orang tua itu sudah tiada, Papi pergi duluan di tahun 2012 dan Mami menyusul kemudian di bulan Desember 2016, bahkan kami pun belum sempat merayakan Natal bersama mami seperti di tahun-tahun sebelumnya. Kenangan itu hanya bisa kami lihat melalui foto.



Selamat jalan Papi dan Mami, Kasih Tuhan melimpah di atas kalian, kini kalian sudah bertemu di alam baka, berdamailah dalam keabadian. Rest in Peace.
Tiada kata yang dapat kami ucapkan selain kami mengasihi dan menghargai kalian.

In Memoriam :

Papi's funeral, Juni 2012

Rip Mami, Desember 2016

Sebentuk perhatian dari GKA Jakarta

Sebentuk perhatian dari RS.Ciputra


Just share

Rabu, 07 Desember 2016

Pesona Pulau Dewata

Bali??? Mendengar nama itu tentu sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia sendiri maupun wisatawan mancanegara sebagai tempat tujuan wisata, baik untuk wisata sejarah, seni, dan budaya, maupun petualangan hingga yang memicu adrenalin.

Banyak juga lagu-lagu cinta tercipta dari keindahan pulau ini, sebut saja " Denpasar Moon", "Di Kuta Bali", dan sering juga menjadi tempat setting-an film dalam maupun luar negeri.

Pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini sekitar bulan Juni 1986 bersama keluarga, seingatku pada waktu itu liburan sekolah SD, tidak banyak hal yang kuingat pada saat itu selain banyak kera yang merupakan titisan dewa dan juga pura-pura untuk upacara keagamaan umat Hindu dan ada beberapa pantangan jika masuk kedalam pura.

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya di bulan Oktober 2006, saya dan suami mendapat kesempatan ke Bali (setahun pasca ledakan bom Bali). Menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai, banyak sekali ditawarkan brosur-brosur wisata mulai dari city tour hingga petualangan, seperti rafting, snorkeling, diving, dll.

Dari bandara, kami langsung menuju ke Garuda Wisnu Kencana (GWK), suatu tempat yang akan dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi landmark bagi pariwisata Bali (pembangunan patung GWK belum selesai sepenuhnya pada waktu kami datang) Dari situ kami menuju ke Pura Uluwatu yang berdiri persis diatas batu karang yang menjorok ke laut dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Di lingkungan pura juga tumbuh semak-semak yang dijaga oleh kera-kera jinak dan dilindungi oleh masyarakat setempat.

Scenic view at Uluwatu
Sambil menunggu matahari terbenam, kami memutuskan untuk dinner di Jimbaran. terdapat beberapa unit cafe berjejer di tepi pantai. yang menyediakan berbagai makanan laut khususnya ikan bakar dengan aroma dan rasa khasnya. Sambil menikmati hidangan, ada juga beberapa pengamen yang menyanyikan lagu-lagu cinta.

Dinner at Jimbaran
Dari Jimbaran kami langsung menuju ke Hotel Melasti di kawasan Kuta. Sengaja kami memilih kawasan Kuta dengan pertimbangan ada ungkapan yang mengatakan "Datang ke Bali tanpa mengunjungi Kuta belumlah lengkap". Di kala senja di saat matahari terbenam, Kuta menyajikan pemandangan yang sangat indah dan romantis. Bahan candaan untuk kami berdua pun ada di Kuta, saat kami berolahraga pagi hari, saya membawa handphone di kantong celana, tanpa disadari handphone itu jatuh entah dimana, karena ternyata kantong celanaku robek. Saat kami menyusuri pantai untuk mencari lagi ternyata sudah tidak ada. Teringat lagu yang dinyanyikan Andre Hehanusa, kami tertawa karena bukan hanya "Di Kuta Bali cinta kita bersemi", tapi menjadi "Di Kuta Bali handphoneku pun hilang".

Sunset view at Kuta Beach

Di Bali kami banyak sekali pergi ke tempat-tempat wisata, seperti di Pura Taman Ayun yang berarti taman yang indah, Sangeh dengan legenda keranya, Tanah Lot dimana ada sebuah pura yang didirikan diatas sebuah pulau karang kecil yang menjadi tempat paling sering dipotret oleh pengunjung, ada juga kawasan Bedugul yang memiliki kawasan alam yang indah dan sejuk, dengan objek wisatanya adalah Danau Beratan yang keindahannya menjadi lebih lenkap dengan berdirinya Pura Ulundanu dan juga kawasan Kintamani yang cukup menarik, serta beberapa tempat wisata lainnya.

Bergaya di Pura Taman Ayun
Berdua di Tanah Lot
At Bedugul
Tanpa melewatkan kesempatan di Bali, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan memakai baju adat Bali sebagai kenang-kenangan.

Traditional Balinese Costumes @Denpasar
 Ke Bali kurang lengkap tanpa bermain-main air laut, untuk melihat keindahan bawah laut pun bisa tanpa berenang ataupun menyelam. Kami mengambil paket "Sea Walker" di daerah Pantai Sanur. Sebelum mulai penjelajahan bawah laut dengan berjalan kaki, kami di training singkat oleh instruktur tentang apa yang harus kami lakukan selama di dasar laut demi keselamatan. Dan juga kami dapat berfoto-foto dengan ikan-ikan dan biota laut lainnya. Paket itupun mendapatkan hasil jepretan di dasar laut dan makan siang setelah sampai di darat.

Bila di tanya, apakah kami akan kembali ke Bali? secara pribadi saya akan menjawab pasti, tetapi tidak dalam waktu dekat.

Biarlah pesonamu ya Bali tetap menjadi inspirasi dan menyihir wisatawan dalam maupun luar negeri untuk datang, sehingga laju perekonomian disana semakin membaik dan kesejahteraan penduduk yang menggantungkan hidup dari pariwisata menjadi terjamin.

Wonderful Indonesia

Mengunjungi Sumatera Utara

Di Sumatera Utara pada bulan Agustus 2006, kami berkesempatan untuk mengunjungi kota Binjai, Brastagi, dan tak ketinggalan kota Medan.

Setelah dari Aceh, kami kembali ke Medan menggunakan mobil. Masuk daerah Sumatera Utara, kami sempat singgah untuk bermalam di kota Binjai. Keesokan harinya city tour sebentar di Binjai. Binjai tidak terlalu luas. Suasananya seperti chinatown di Glodok. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Medan, langsung ke Brastagi.

Terletak pada ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut. Brastagi adalah sebuah kota yang berada di kawasan perbukitan, dan memiliki panorama indah dengan udara pegunungan yang sejuk dan nyaman. Kota ini terletak pada jalur jalan menuju ke Danau Toba, kurang lebih 70 km dari Medan. Dua gunung berapi menjadi latar belakang dari kota Brastagi ini, yaitu masing-masing Gunung Sinabung di barat, dan Gunung Sibayak di utara.

Berfoto dengan latar belakang Gunung Sinabung di atas Bukit Gundaling
 Kami mengunjungi Bukit Gundaling yang berada di pinggir utara kota Brastagi. Bukit ini cukup populer di kalangan penduduk Brastagi. Dari sini kami bisa memandang separuh kawasan Brastagi, termasuk Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Di kaki Bukit  Gundaling ini, banyak terdapat penginapan yang sebagian dimiliki Pemda dan BUMN.

Dari Brastagi, kami langsung menuju ke Medan, tiba pada sore hari.
Medan adalah ibukota propinsi yang dinamis, dan kota terbesar di Sumatera, atau ketiga terbesar di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini merupakan kota multietnis yang menarik. Mayoritas penduduknya adalah suku Batak, tetapi di kota ini juga banyak tinggal keturunan India dan Tionghoa. Komunitas Tionghoa di Medan cukup besar, sekitar 25 persen dari total jumlah penduduk.
Salah satu ciri kota Medan adalah keberadaan gedung-gedung tuanya peninggalan masa kolonial. Di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan A. Yani terdapat banyak bangunan bergaya Eropa. Di salah satu ruas jalan ini, di belakang deretan toko-toko milik etnis Tionghoa, terdapat Rumah Tjong A Fie, yaitu sebuah rumah besar bergaya China dengan ornamen dan hiasan yang indah. Tjong A Fie dikenal sebagai pengusaha perkebunan kaya. Rumah ini dibangun pada saat jaya-jayanya perusahaan perkebunan di sekitar Medan pada tahun 1920-1930.

Berfoto di depan Rumah Tjong A Fie

Bangunan tua yang paling terkenal dan menarik untuk dilihat di Medan adalah Istana Maimun, yang merupakan istana dari sultan-sultan Deli. Istana ini dibangun oleh Sultan Deli pada tahun 1888. Keluarga Sultan hingga kini masih mendiami sebagian sisi bangunan ini.

Berfoto di depan Istana Maimun
Wonderful Indonesia