Minggu, 19 November 2017

Museum LULU (Cimory Trick Art) Dan Trick Art Japan Exhibition

Museum LULU (Cimory Trick Art)

Dalam perjalanan menuju Cimory terlihatlah spanduk yang berjejer rapi di kiri kanan jalan yang mempromosikan Museum LULU yang katanya Museum 3D terbesar di Puncak. David nanya "Emang ada Trick Art di Puncak? Sejak kapan?" Ya.. Sejak kita melihat spanduk itu darling.. Ha.. ha.. ha.. Albert nanya "Mau Cobain?" Entar kita pikirkan..

Jeremy bilang dia pengen foto-foto di Trick Art soalnya belum pernah coba (sambil terus mandangin foto-foto contoh di booth Museum LULU dengan penuh minat). Si papa akhirnya bilang "Ya sudah mumpung di sini sekalian masuk saja."

Jadi kita susun rencana ngemil dulu di Cimory Resto terus langsung lihat Mini Zoo dan Mini Farm di Cimory Riverside Forest baru ke Museum LULU, kemudian terakhir ke Swalayan dan toko souvenirnya.

Sebenarnya saya agak ragu Jeremy ngerti nggak sih kalau di dalam itu cuma lukisan yang akan jadi gambar yang keren saat difoto kalau kita berinteraksi dengan benar sama tuh lukisan. Saya berusaha menjelaskan tapi tuh anak cuma senyum-senyum saja.. Ha.. ha.. ha..

Wah dia belum ngerti nih, entar saya kasih contoh saja deh..

Dengan harga tiket masuk per-orang tiga puluh ribu rupiah yang bisa ditukarkan dengan choco bar, kita pun bersiap menjelajah seluruh ruangan yang menampilkan kurang lebih 50-an lukisan..

Begitu masuk langsung ada gambar kupu-kupu.. Jeremy!.. Siap-siap begini caranya!


Oh kayak gini ya!.. Dengan muka iseng sambil tertawa-tawa, trus bilang dia nggak mau jadi kupu-kupu.. Ha.. ha.. ha..


Dia lari ke gambar sapi terus langsung membuka mulut seakan-akan minum susu sambil teriak minta difoto-in..


Ho.. Ho.. Ho.. Rupanya itu anak sudah ngerti caranya, nggak perlu diajarin lagi. Jeremy terlihat semangat, mencoba-coba berbagai gaya yang disesuaikan dengan lukisan yang ada.


Albert pun tidak mau kalah dalam bergaya.. Jeremy! Gantian dong!.. Ha.. ha.. ha..


Ada juga beberapa foto mereka berkolaborasi dengan kompak.


Ada beberapa foto yang kayaknya cocok untuk kami berdua..


Sepertinya asyik juga kalau foto bersama. Celingak-celinguk cari karyawan di sana yang bisa bantuin foto ternyata nggak ada.. Jadi kesimpulannya kalau masuk ke sini jangan sendirian ya!!

Kalau begitu, salah satu dari kita harus jadi juru foto dong. C'mon kita gantian.




Setelah puas dan sudah sampai pintu keluar, saya nanya Jeremy "Senang nggak? Lukisannya bagus-bagus ya?" Dia jawab dengan polos "Senang! Tapi aku maunya diajak ke Trick Art yang dulu koko sama papa-mama pergi, yang ada fotonya juga, gambarnya lebih bagus.. Koko bisa dimakan hiu"

Ha? bagaimana caranya? Si Albert menjawab sambil tertawa-tawa. Tapi memang benar sih.. Saya juga masih lebih suka sama lukisan yang ada di "Trick Art Japan Exhibition" yang juga menampilkan sekitar 50-an gambar. Seru!!..

Trick Art Japan Exhibition

Pertama kali berfoto dengan lukisan yang bisa memberikan ilusi seakan-akan lukisan itu nyata ya di Mall Grand Indonesia, ketemunya juga waktu itu nggak sengaja. Kebetulan liburan Tahun Baru jadi kita ngajak anak-anak jalan-jalan..

Terlihatlah keramaian antrian yang bikin penasaran. Ada apa ya? Jangan-jangan ada pembagian sembako gratis acara cuci gudang? Segera dong dengan muka pengen tahu cari info..

Oh, ternyata ada pameran karya seni tiga dimensi yang bertajuk "Trick Art Japan Exhibition" Yang sudah mulai dari tanggal 2 Desember 2012 dan berakhir tanggal 3 Februari 2013. Katanya sih pelukisnya dari Jepang yang bernama Kenju Kazumune.

Jadi ceritanya dengan pameran karya seni ini diharapkan dapat menarik perhatian beberapa komunitas seperti fotografi, cosplay, pelajar dan penggemar Trick Art, untuk dapat berfoto-foto dan juga bisa mendorong berkembangnya seni Trick Art di Indonesia.

Jadi tertarik pengen cobain! Awalnya saya ragu "Bisa nggak ya?" Soalnya saya nggak terlalu bisa bergaya kalau difoto, palingan cuma berdiri tegak dengan kepala lurus ala pas foto dan tangan di pinggang atau kepala sedikit dimiringkan untuk menutupi ke-chubby-an pipi saya. David bilang ini kesempatan loh sudah mau selesai juga pameran-nya..

Ya sudahlah! Saya nekat saja sambil menyiapkan mental saat antri nanti.. Ha.. ha.. ha..
Begitu sampai ada tuh tulisan Trick Art.. Foto dulu dong sebagai langkah awal.


Di dalam ternyata ada beberapa juru foto yang siap membantu kita. Jadi yang datang sendirian pun tidak masalah ada yang bantuin kok.

Ayo kita mulai! Terlihatlah lukisan-lukisan yang kelihatan "biasa" saja tidak ada yang menarik.. Tapi? saat kita berinteraksi dengan benar dan mengambil foto dari spot foto yang benar jadi kelihatan keren. Asyik ya? Mulai dari coba bergaya dulu!.






Sudah mulai bisa ber-ekspresi sesuai gambar. Mungkin terbawa suasana juga. Semua pada sibuk dengan gayanya masing-masing. Kami? Tentu saja tidak kalah  dong.. Ha.. ha.. ha..






Dari semua foto yang ada.. Ini nih foto yang kelihatan-nya keren! Ada ibu yang rela buka mulut hiu untuk menyelamatkan anaknya dengan dibantu bapaknya.. Ha.. ha.. ha..


Sepertinya latihannya sudah lumayan oke dengan lukisan 3D ala pelukis Jepang. Perlu nggak ya ke Tokyo Trick Art Museum di Odaiba Jepang? ha.. ha.. ha..

Happy Holiday

Jumat, 17 November 2017

Ada Cimo Dan Mory Di Cimory Riverside Forest

Ho.. ho.. ho.. yang menarik di Cimory Riverside Forest ini, kita bertemu patung sapi kecil yang kini berdiri menyambut kehadiran kita di Mini Farm Cimory. Jeremy tentu saja senang dan langsung berlari ke arah "sapi kecil" itu. Yang belum ngerti apa sih hubungan "sapi kecil" itu dengan Jeremy baca ceritanya di Asyiiknya Cimory Riverside Resto ya..


Tonjokan kangen melayang ke arah si "sapi kecil"..


Jadi ceritanya setelah ngemil asyik di Cimory Riverside Resto, sekarang saatnya kita menjelajah Mini Zoo dan Mini Farm diseberang sungai.

C'mon kita turun ke arah sungai jangan lupa beli tiketnya seorang lima belas ribu rupiah. Tiket ini bisa ditukarkan dengan sebotol yoghurt ukuran kecil.

Kemudian kita jalan santai menyusuri sungai dan lewat jembatan menuju seberang. Perjalanan lumayan panjang, tapi tidak berasa karena senang. Sampai di seberang kita akan masuk wilayah seperti hutan dengan bau-bauan alam.

Berjalan di atas tanah yang lembab memandang ke kanan dan kiri melihat sekeliling ada pemandangan Sungai Ciliwung, berhenti sejenak untuk membaca 'Tahukah Kamu?". Bolehlah belajar sedikit tentang Sungai Ciliwung dan Bendungan Katulampa..


Tiba-tiba terdengar suara Jeremy yang berteriak "Ini mirip Jackson Storm!" sambil nunjuk gambar burung. Mana? Oh rupanya maksud dia warna burungnya mirip Jackson Storm musuh Lightning McQueen di film Cars 3..

Burung "Jackson Storm"
Lanjut perjalanan bertemulah kita dengan rusa totol. Jadi teringat cerita Bambi di salah satu film animasi dari Walt Disney yang menceritakan tentang kehidupan binatang di dalam hutan.

Rusa Totol "Bambi"
Eh ada juga peternakan ayam dengan kandang-kandangnya. Mau lihat nggak? Kids langsung ngacir..

Akhirnya kita tiba di Mini Farm-nya. Nah di sinilah kita akan bertemu dengan Cimo dan Mory. Yuhuu.. kami datang, pada saat berjalan semakin dekat terciumlah bau menyengat ala peternakan..

Albert bilang "Bau apa ini?" sambil tutup hidung. Nggak disangka Jeremy langsung menjawab dengan santai, "Bau pant*t sapi!!" Spontan kami yang mendengar kaget, bahkan ada ibu-ibu yang bawa anak sampai menahan tawa yang akhirnya tidak tahan jadi tertawa terpingkal-pingkal..


Saya heran kok Jeremy bisa ngomong begitu, iseng saya tanyain sambil godain dia "Emang Jeremy pernah cium pant*t sapi?" Katanya "Itu ada sapi yang e'ek kan jadi bau".. Ha.. ha.. ha.. tapi beneran loh memang ada sapi yang lagi poop.

Di Cimory Dairy Farm ini pengunjung juga diperbolehkan untuk memerah susu langsung dari "sumbernya" ataupun memberikan dot kepada anak sapi dengan tambahan biaya lagi tentunya..


Yang uniknya nama sapi di Cimory ini lucu. Sang induk diberi nama Cimo dan sang anak diberi nama Mory. Jadi ada yang bernama Cimo 1, Cimo 2, dan juga ada Mory 1, Mory 2..

Albert dan Jeremy senang sekali melihat sapi-sapi lucu itu..



Jenis sapi di Cimory ini merupakan sapi perah dari Belanda berjenis The Friesian Holsteiner yang khusus memproduksi susu, jadi bukan untuk dikonsumsi dagingnya. Sapi-nya yang berwarna hitam putih..

Setelah puas menjelajah Mini Zoo dan Mini Farm kita balik lagi ke area restonya untuk berfoto-foto ria di Museum LULU (Cimory Trick Art). Baca di postingan selanjutnya ya.. see you..

Happy Holiday

Selasa, 14 November 2017

Asyiiknya Cimory Riverside Resto

Yuhuu... akhirnya dapat kesempatan juga ke daerah Puncak.. Terakhir kapan ya? Seingat saya sih sudah lama. Mari kita bernostalgia! Yang namanya nostalgia tentu ke tempat yang dahulu kala pernah kita datangin terus kita pingin datang lagi, entah karena kita suka tempatnya atau karena penasaran.

Kalau saya? Tentu saja karena bingung.. ha.. ha.. ha.. Ceritanya David ada acara gathering terus ngajakin kita ikut, iseng searching lokasi tempatnya, eh ternyata dekat dengan Cimory Riverside Resto. Awalnya si papa David bilang "Kan sudah pernah ke sana, rasa makanan-nya juga biasa. Cari dong tempat nge-hits lainnya yang kita belum pernah pergi? Dia pengen ikut kekini-an.. Ha.. ha.. ha..

Albert tiba-tiba ingat! Cimory yang mana? Yang ada sungainya kan? Mauuu!...
Jeremy cuma ikut-ikutan bilang "Hore.. hore..!"
So? Deal? Tenang saja entar dari Cimory kita baru ke tempat nge-hits lainnya (maksudnya tempat yang kita belum pernah pergi). Okelah kalau begitu! Si papa David ikut-ikutan senang juga... Horee.. horeee..

Singkat cerita kita pun tiba di Cimory Riverside Resto jam 10-an. Sebuah resto yang berada di tepi Sungai Ciliwung dan di seberang restonya dibangun Mini Zoo yang diberi nama Cimory Riverside Forest. Entar kita sekalian ke sana ya!! Soalnya waktu datang pertama kali belum dibangun.

Cimory Riverside, November 2017
Oya sekedar mengingatkan kalau bepergian ke Kawasan Puncak, ada baiknya memperhatikan jadwal buka tutup arus lalu lintas di sana, terutama hari Sabtu dan Minggu.

Begitu masuk ke dalam Cimory, kita akan bertemu dengan patung sapi. Tapi kok patungnya jadi lebih besar? Dulu patung sapinya kecil, kids mulai kasak-kusuk..

Ini nih penampakan patung sapi waktu kita datang bulan April 2013. Kids juga masih kecil, wajar dong patung sapinya juga masih kecil.. Ha.. ha.. ha..

Cimory Riverside, April 2013
Karena kids sudah mulai besar si patung sapi juga tidak mau kalah, si sapi-pun membesar.. Ha.. ha.. ha.. Kangen sama sapi kecil!! 


Cimory Riverside, November 2017
Nah di sebelahnya ada juga sapi yang kita ajak foto bersama ramai-ramai.. Duh senangnya!!


Selesai urusan dengan patung sapi, sekarang mari kita ngemil! Belum jam makan siang soalnya. Cari tempat duduk yang dekat sungai. Cukup pesan dua porsi makanan untuk ber-empat supaya lebih terasa sensasi rebutannya.. Ha.. ha.. ha..


Cimory Riverside, November 2017
Sekarang kita lebih beruntung karena datangnya saat snack time, jadi bisa duduk langsung dengan view sungai. Dulu karena datangnya pas makan siang, ya dapatlah tempat seadanya yang tersedia saja, sesuai nomor antrian (kayak tempat duduk menentukan posisi saja).. Ha.. ha.. ha..

Pesanan makanannya juga ala Western ikutin rekomendasi si mbak aja deh, dia bilang sosis panjang enak, maka kita pun pesan itu. Sekarang si sosis panjang masih ada di daftar menu, cuma harganya saja yang berubah... tentu saja jadi lebih mahal. Kalau mau makan hidangan ala Indonesia juga tersedia kok.

Ini foto waktu kita datang pada bulan April 2013. Kids masih kecil, Jeremy saja masih makan ala slow cooker, jadi cuma ikutan foto sambil cemal-cemil saja.


Cimory Riverside, April 2013
Sambil nunggu makanan, kids main di playground ditemani papa David..

Cimory Riverside, November 2017
Kids serasa bernostalgia dengan menunggang sapi.. Ya.. ya.. ya.. tapi menunggang sapi itu bukan di sini darling, tapi di Cimory satunya lagi yaitu Cimory Mountain View yang berkonsep pemandangan menghadap bukit.

Cimory Mountain View, April 2013
Kalau dulu kita hanya bisa berfoto dengan latar belakang sungai dan ngajak kids main ayunan sambil lihat sungai.

Cimory Riverside, April 2013

Main ayunan, April 2013
Sekarang selain foto dengan pemandangan sungai, kita sekalian menyusuri sungai dan naik jembatan untuk nyebrang ke Mini Zoo-nya. Asyiik ya!



Banyak juga dipasang spot-spot menarik untuk berfoto sekalian promosiin produknya. You know kids lah? Lihat patung suka nggak tahan kalau nggak beraksi.. Ha.. ha.. ha..


Apalagi ya? Oh itu sekarang ada Museum LULU (Lukisan Lucu) yang katanya sih Museum 3D terbesar di Puncak. Benar nggak ya? Mungkin karena belum ada saingannya.. Ha.. ha.. ha..

Jeremy pengen masuk cobain foto-foto di dalam. Baiklah mari kita beli tiket masuk dulu ya!


Kalau dulu cuma ada swalayan yang jualan produk susu segar dan daging olahan ala Cimory, trus ada toko coklat yang mereka namakan Chocomory, sehingga terkesan tempatnya luas dan lapang walaupun ramai..

Sekarang banyak penambahan, ada toko es krim, toko souvenir bahkan di lantai bawah pun dibikin Factory Outlet sehingga menimbulkan kesan padat kalau jalan siap senggol kanan kiri, apalagi kalau ada yang mau foto.. Ha.. ha.. ha..

Di sini saya beli gantungan kunci sapi tulisan Cimory, Jeremy cobain marshmallow dicelupin coklat fountain. Albert dan papanya cobain es krim.. Yummy!



Setelah puas di Cimory Riverside kita pun melanjutkan perjalanan ke De Ranch Puncak yang katanya rasa Bandung.. Seperti apa ya penampakannya? Jadi penasaran? Baca di postingan selanjutnya ya.. See you..

Happy Holiday

Senin, 06 November 2017

Kids School Project

Pulang sekolah, Jeremy bawa "surat cinta" untuk tugas orang tua di rumah dan sebuah kalung yang dia persembahkan untuk Mama. Dengan berlari kecil dan tersenyum manis dia bilang, "Ada surat dan hadiah untuk Mama." Apa itu? Ternyata kertas pemberitahuan tentang kegiatan cookery dan juga sebuah kalung yang katanya dia buat sendiri di sekolah bareng teman-teman lain untuk mama masing-masing anak. Duh senangnya!! Memang benar apa kata pepatah, jangan melihat harga dari sebuah pemberian tapi lihatlah siapa yang memberi eh ketulusan dari si pemberi.. Ha.. ha.. ha..

Jeremy bilang lagi kalung itu bisa Mama pakai saat Christmas, pasti Mama jadi cantik. Trus hadiah natalnya Pandagguy (Gundam Model Kits), entar Jeremy bantu cariin trus yang bayar Koko. Mendengar hal itu si Koko langsung berseru, "Apaaa? Nggak kebalik?" Ha.. ha.. ha.. emang tuh si Koko Albert suka gitu orangnya. Oya tentang Pandagguy itu masuk ke salah satu wishlist koleksi saya yang tanpa sengaja terkumpul (Baca : The Beargguy Family)..

Kalung buatan Jeremy
Setelah menerima kalung, sekarang giliran baca surat pemberitahuan. Ternyata dalam rangka kegiatan cookery, anak-anak telah melakukan exploring dan telah menentukan pilihan untuk membuat makanan dari bahan dasar Koko Krunch / corn flakes (khusus kelas Jeremy). Untuk itu anak-anak diminta untuk mengumpulkan resep dan gambar makanannya. Resepnya sendiri bisa diambil dari majalah, koran ataupun internet.

Mau bikin apa ya? Tanpa sadar kita sudah masuk ke tahap planning. Jeremy bilang gampang kok bikinnya. Katanya sih dia juga bisa tanpa bantuan, tinggal taruh Koko Krunch di mangkuk, tuang susu trus.. jadi deh!! Ide yang bagus! Simpel, praktis dan tidak ribet semua bahan sudah tersedia.


Seingat saya sih corn flakes biasanya suka dibikin kue kering, tapi agak malas cari resepnya. Tiba-tiba si Papa David usul "Bagaimana kalau bikin brownies saja? Topping-nya bisa diganti sama Koko Krunch atau corn flakes?" Entar rencananya si Papa mau bawa ke tempat kerja untuk dibagi-bagi secukupnya.

Oke setuju! Pakai resep andalan kita saja tapi toppingnya kita ganti. Tidak hanya resepnya yang kita kasih tapi juga sekalian masuk tahap doing. 
C'mon kids mari kita bikin kue! Pertama-tama cuci tangan dulu!


Sementara Mama menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan kemudian difoto dulu..


Eh ternyata di dus belakang corn flakes ada resepnya. Kok nggak digunting saja tadi ya? Ah sudahlah nggak apa-apa kita tetap lanjut saja dengan Brownies Coklat topping corn flakes dan Koko Krunch..


Kita mulai tahap mixer telur dan gula, Jeremy sangat antusias. Kita berdua sudah kayak masterchef dadakan. Si Papa sibuk merekam aksi kita yang akan dimasukkan dalam DJ3 Family Activity sementara si Koko Albert yang jadi tukang fotonya.


Tahap demi tahap kita lalui mulai dari mencampur tepung, coklat bubuk dan menuang cooking coklat dan mentaga leleh hingga berakhirlah sampai masuk loyang.


Semua berjalan lancar, tapii? Terdengar suara Albert yang juga mau menuang di loyang katanya "Albert boleh coba juga nggak? Gantian dong?" Ya sudahlah "silahkan!"..


Si Albert nyuruh adiknya duduk katanya istirahat saja dulu entar Koko yang selesaikan, loh? Kok begitu? Berdua dong! Si Papa langsung protes..


Mereka berdua bekerjasama meratakan adonan di loyang dan pakaikan topping bersama..



Setelah selesai si Papa mengambil alih pekerjaan dengan merapikan topping yang berantakan serta memanggang si brownies..


Finally selesai juga tinggal tunggu dingin dan di potong-potong kemudian dimasukin kotak dan siap masuk ke tahap testing (kalau tahap ini bisa-bisanya saya saja). Albert bilang sih harusnya tahap communicating terus reflection. Nggak apa-apalah darling! Supaya cepat saja..



Semuanya beres tinggal ditesting saja, tidak hanya bagi resep tetapi juga hasilnya ke sekolah.. Ha.. ha.. ha..
Penasaran? baca resepnya di Brownies Coklat With Choco Crunch / Corn Flakes..

Jeremy dan Brownies
Bagaimana dengan project si sulung Albert yang sudah kelas 7? Dia juga ada kegiatan cookery loh. Ditugaskan bikin makanan nusantara, ceritanya satu team bertiga anak laki semua. Pilihan makanan mereka adalah Martabak Manis dan Ketoprak..

Sebelumnya Albert minta ijin untuk masak bareng temannya di rumah. Hmm boleh nggak ya? Entar kalau kotor gimana? Si Albert meyakinkan saya nggak bakalan kotor entar mereka akan membersihkan dapur saya sampai bersih seperti semula.

Albert menambahkan lagi tentang bahan-bahan yang di perlukan entar mereka bagi tugas teman-temannya juga bawa kok, jadi mama nggak usah khawatir. Si Papa agak keberatan tapi dia bilang coba aja lihat nanti! Benar nggak? Saya mulai ragu.. ha.. ha.. ha.. Bagaimana kenyataannya?

Tibalah hari sesuai kesepakatan mereka yaitu hari minggu. Temannya datang tapi hanya satu yang bawa sebatang keju dan meises, katanya teman yang satu lagi lupa bawa barang sesuai tugas dia.

Oh begitu? Ya sudahlah pakai saja bahan yang ada di rumah kami. Saya pikir nggak apalah Albert juga bisa belajar bikin martabak entar kalau pengen makan martabak suruh dia saja yang bikin..Ha.. ha.. ha..

Awalnya Albert minta tolong papa setting-in video sekalian foto-foto aksi mereka, tapi? Ternyata teman-temannya malu katanya mau foto-foto sendiri saja tapi jangan kelihatan muka. Aneh ya? Biasa anak remaja memang suka gitu..

Minta diajarin bikin martabak? Lihat saja YouTube, gampangkan? mereka nonton bertiga. Setelah selesai nonton mereka langsung beraksi. Awalnya siapkan bahan dulu..


Setelah itu ada yang bacakan resep, ada yang mengolah bahan. Kompak ya mereka? Sambil nunggu adonan mengembang, mereka bermain bersama, Jeremy juga ikutan main bersama mereka..


Semua berjalan lancar? Langsung berhasil? Tentu saja tidak.. sempat tercium bau gosong memenuhi rumah kemudian terdengar suara Jeremy dan anak-anak itu heboh.. Ya ampun itu martabak sudah jadi hitam..ulang lagi.. gagal lagi.. akhirnya adonan pertama habis.. gagal sampai 3 kali.. ha.. ha.. ha..

Akhirnya mereka ngulang bikin adonan baru untuk kedua kali, tapi? Telurnya habis. Tanggung jawab dong? Mereka naik sepeda pergi beli telur. Mulai lagi proses dari awal. Satu adonan bisa untuk tiga martabak sebenarnya. Pembuatan martabak pertama lengket di teflon.

Albert lari nemuin saya minta tolong katanya "Ma, bantuin kita, ini sudah sore gagal lagi mau sampai jam berapa selesainya?" Mukanya heboh.. ha.. ha.. ha..

Sebenarnya saya sih nggak terlalu ahli tapi paling tidak.. bisalah.. Akhirnya jadilah dua buah martabak, satunya untuk dibawa ke sekolah dan satunya lagi mereka makan bareng-bareng untuk menikmati hasil karya mereka.

Ini anak-anak lumayan tanggung jawab loh. Mereka membersihkan dapur trus cuci piring, dilap kering dan taruh di tempat semula, lantai juga dipel bersih. Begitu dong!

Hasilnya yang mereka bawa ke sekolah.



Walaupun bentuknya tidak menarik tapi kita harus mengapresiasi usaha yang sudah mereka lakukan, Datang ke rumah jam 1 siang selesai jam 5 sore.. Hmm benar-benar deh..

Ngomong-ngomong soal bikin kue memang asyik dan menarik, kadang bikin deg-degan tapi kalau berhasil senang banget, kalau gagal malah penasaran, kok bisa ya?



Just Sharing