Selasa, 07 Februari 2017

Bali Bird Park

Bali Bird Park ini juga menjadi salah satu agenda kunjungan kami di Bali. Anak-anak pasti suka banget tuh lihat burung-burung cantik yang bisa juga mereka lihat dan pegang sambil berfoto.

Pintu masuk Bali Bird Park
Begitu sampai loket kita bisa langsung membeli tiket masuknya. Harga untuk WNI pada bulan Juni 2016 Rp 150.000/orang dan anak-anak setengah harga orang dewasa. Ayo kita mulai explore..

Sampai di dalam ada petugas yang menawarkan kami untuk mengisi kuis yang pertanyaannya ada pada papan di jalan yang diberi nomor jadi sekalian bisa explore secara lengkap sesuai dengan area yang ada, setelah semua di jawab dengan benar kita bisa menukar kertas itu dengan gift yang sudah disediakan. C'mon mari kita mulai...

Begitu kami masuk langsung nonton atraksi pertunjukan berbagai macam burung. Setelah selesai, langsung ambil posisi foto-fotoin burung eksotis itu.






Di Bali Bird Park ini pun kita bisa berfoto dengan para burung tanpa dipungut biaya. Para petugas di sana akan berbaik hati menolong mengabadikan foto kita. Kecuali kalau kita ingin mencetak foto, baru akan dikenakan biaya.


Kita pun bisa berfoto dengan latar burung-burung cantik ini.


Sebelum mulai explore kita mulai dulu dari nonton cinema 4D.

Dalam Cinema 4D
Mulai explore dan berjalan sesuai petunjuk jalan dan menjawab kuis di kertas yang sudah diberikan. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat aneka burung dan ada juga reptil yang ditampilkan.







Ada juga kejadian saat kita berjalan di jalan setapak tiba-tiba ada burung merak yang menghalangi jalan. Si burung tidak mau pindah malah seperti jagoan mau takut-takutin orang. Yang terjadi adalah pengunjung malah senang sekalian aja ajakin foto si burung merak tadi. Ha.. ha.. ha..

Foto bareng dengan burung merak

Burung Merak menghalangi jalan
Akhirnya selesailah perjalanan kami, kuis juga sudah terjawab semua. Mari kita tukar kertas kuis itu dengan gift yang dijanjikan. Apa ya? ternyata sebuah pin bergambar burung. Karena tempat penukarannya di toko souvenir jadi sekalian aja masuk dan beli gantungan kunci.

Gift dan Souvenir
Dari Bali Bird Park ini kita pun melanjutkan perjalanan lagi. Baca di postingan selanjutnya.. see you..


Wonderful Indonesia

Minggu, 05 Februari 2017

Coffee Break Gratis

Gratis? Bagaimana ceritanya bisa gratis? Simak yuuuk!

Jadi dalam perjalanan dari Pura Ulun Danu di daerah Bedugul ada plang yang menarik perhatian kami bertuliskan Coffee Break. Atas rekomendasi supir mobil rental yang kami sewa selama di Bali kami pun singgah sebentar karena penasaran.

Sampai di sana kami disambut seorang gadis Bali yang akan menjadi pemandu kami.

Jadi di Coffee Break ini lebih difokuskan pada proses pembuatan kopi Luwak. Di sini kita dijelaskan mulai dari saat penanaman, proses produksi hingga produk jadi yang siap dinikmati.

Kopi Luwak
Si pemandu akan menuntun kita menelusuri perkebunan kopi robusta dan arabika sebagai bahan baku kopi luwak. Di sana kita akan diterangkan tentang spesifikasi dan karakter masing-masing jenis kopi yang ditanam di sana.

Tanaman Kopi
Perjalanan dilanjutkan ke lokasi produksi berupa kandang binatang luwak yang terbuat dari anyaman kawat. Luwak termasuk binatang malam, jadi di siang hari ini mereka sedang tidur di dalam sarang.

Kandang Luwak di belakang Albert
Ceritanya buah-buah kopi arabica yang telah benar-benar matang (ditandai dengan kulit buah berwarna merah) diberikan sebagai makanan untuk luwak, untuk mempercepat proses pengeluaran kotoran oleh luwak biasa ditambahkan juga sedikit pepaya. Buah-buah kopi akan dicerna oleh enzim pencernaan yang ada di perut luwak. Proses fermentasi alami yang terjadi di sistem pencernaan luwak itulah yang akan menjadikan kopi arabica menjadi kopi luwak yang berkualitas tinggi dan berharga sangat mahal.

Selama dicerna di perut luwak, biji-biji kopi tidak hancur. Nantinya akan utuh keluar bersama kotoran luwak. Kotoran ditampung. Biji-biji kopi yang keluar bersama kotoran pun dicuci bersih.

O ya jenis kopi yang dipakai katanya biasanya kopi arabica soalnya luwak hanya mau makan kopi jenis arabica yang berbau harum dan manis tak mau jenis kopi lain.

Proses berikutnya adalah pengeringan biji kopi dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Biji-biji kopi yang telah kering kemudian disangrai (digoreng tanpa minyak) hingga berubah warna menjadi kehitaman.


Kopi Luwak yang dikeringkan

Poses berikutnya ditumbuk di lesung yang terbuat dari batu. Kopi yang telah halus selanjutnya diayak. Nah di tahapan ini kids mulai nggak betah. Padahal sebelumnya mereka antusias banget malah kelihatannya tadi pengen coba-coba numbuk dan ayak. Penyebabnya gara-gara ibu-ibu yang lagi numbuk dan ayak iseng godain kids, jadinya langsung aja mereka berdua ngacir. Ha.. ha.. ha.. ya sudahlah tinggalkan saja itu ibu-ibu rumpi...

Nah sekarang saatnya kita untuk icip-icip gratis. Banyak toples-toples berisi berbagai jenis kopi yang sudah dimodifikasi. Tertulis nama di masing-masing toples kita tinggal minta yang mana yang mau kita coba entar pemandu yang tadi nemenin yang bikinin. Karena cuma mau coba-cobain macam-macam kopi jadi setiap cangkir saya minta dibikinin setengah cangkir saja. entar tinggal tukar-tukaran nyobain. Jadi yang kami coba antara lain : chocolate coffee, vanila cofffe, coconut coffee, white chocolate, ginger coffee dan cinnamon tea. Yang tersedia sih sepertinya di atas 10 toples. Mana sanggup lah kami cobain satu-satu.

Untuk membandingkan rasa kopi-kopi ini kita pun minta dibuatin kopi luwak. nah khusus untuk icip-icip kopi luwak Bali ini memang tidak gratis secangkir dihargai Rp 60.000.

Setelah itu oleh pemandu kami diajak ke Coffee Shop yang menyediakan produk seperti kopi bubuk dan lainnya. Kami sih tidak lama di toko ini. Akhirnya kami pun pulang tanpa membawa buah tangan dari toko ini.

Happy Culinary

Jumat, 03 Februari 2017

Mengunjungi Pura - Pura Di Bali

Yeah sampai Bali akhirnya... melanjutkan petualangan baru kami yang sebelumnya di Lombok. Kemarin malam sih begitu tiba langsung check in ke hotel. Hotel yang kami pilih adalah Atanaya By Century Park di daerah Sunset Road; letaknya lumayan strategis bersebelahan dengan toko oleh-oleh Krisna dan juga kalau mau cari tempat makan juga mudah, tinggal nyebrang ketemu deh dengan bubur Laota yang enak (modelnya kayak di Ta Wan).

Karena ke Bali ngajak anak-anak untuk pertama kalinya, kunjungan wajib bagi mereka adalah mengunjungi pura-pura yang ikonik di Bali bagian utara. yaitu antara lain Pura Taman Ayun, Pura Ulun Danu dan Pura Tanah Lot.

Perjalanan kami di mulai dari Pura Taman Ayun. 

Foto dari sisi belakang Pura Taman Ayun
Pura Taman Ayun ini termasuk dalam dalam UNESCO World Heritage Site karena dinilai mempunyai nilai sejarah. Taman Ayun artinya taman yang indah (beautiful garden). Untuk menuju kompleks pura, kita harus melewati halaman depan berupa taman yang cukup luas.

Pura ini terbagi menjadi 2 yaitu pelataran luar dan pelataran dalam. Di pelataran luar ini terlihat semacam pendopo sebagai tempat umum yang biasanya digunakan untuk pelaksanaan upacara dan juga sebagai arena sabung ayam yang dilaksanakan dalam kaitannya dengan penyelenggaran upacara di pura.

Pendopo di Pura Taman Ayun

Gerbang Utama

Kompleks bangunan puranya sendiri tidak diperbolehkan untuk wisatawan umum. jadi kita hanya bisa melihat bangunan pura dari sekeliling pagar batu.

Gapura pintu masuk ke pelataran dalam
Foto dari tembok yang membatasi area dalam pura
Foto dari samping pura
Dari Pura Taman Ayun kami langsung menuju ke daerah Bedugul yang berudara sejuk. Lunch daerah sini aja deh, singgah sebentar di RM. Saras. Suasananya berasa seperti di Puncak. tapi sayangnya ada beberapa orang yang merokok, kok begitu sih?

RM. Saras yang berudara sejuk
Salah satu menu yang kami pesan
Saat kami sedang menikmati makanan. Albert anak sulung saya bertanya, setelah makan kita mau ke mana lagi. Saya menjawabnya dengan mengeluarkan uang lima puluh ribu dan menunjukkan kepada anak-anak "Ke tempat inilah kita akan pergi!" Tak di sangka dan tak diduga mereka begitu antusias langsung bersorak kegirangan.

Yup benar perjalanan akan kami lanjutkan ke Pura Ulun Danu dan Danau Beratan seperti yang tampak pada gambar di uang lima puluh ribu rupiah itu.

Pura Ulun Danu dan Danau Beratan
Saat akan memasuki kompleks pura, tiba-tiba Jeremy si bungsu nyeletuk mau foto sama jagung. awalnya saya bingung sejak kapan ya di pura ini mulai di tanami jagung. Ternyata.. oh.. ternyata itu adalah tempat sampah yang dibuat bentuk jagung. Si Jeremy pun sudah bergaya-gaya di depan jagung yang ada lubangnya trus kita paksa dia foto dari belakang jagung yang tidak ada lubang sampahnya. Ha.. ha.. ha..

Jeremy dan tempat sampah bentuk jagung
Anak-anak sangat antusias di sini terutama Jeremy. Tapi agaknya mereka salah fokus waktu diajakin ngantri naik kapal keliling danau mereka menolak karena lebih suka foto dengan patung-patung. Ada juga tuh patung ikan yang mereka incar mau foto yang kebetulan di dekatnya ada orang yang lagi ngobrol-ngobrol, akhirnya kita minta ijin agar mereka bergeser sedikit supaya kita bisa foto. Tak disangka ternyata ada juga yang mengikuti jejak kami. Setelah selesai berfoto tampak dua turis asing gantian berfoto di patung ikan itu.

Patung ikan
Ada beberapa patung lagi yang menjadi sasaran mereka berfoto, antara lain :



Bunga-bunga pun tidak lepas dari sasaran kamera kami, fotonya pakai tehnik Macro Photography.





Puas dari pura Ulun Danu kami pun melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan ada plang yang menarik perhatian kami yaitu Coffee Break. Driver mobil rental yang melihat kami tertarik ingin tahu tempat apa itu coffee break, langsung menjelaskan bahwa di tempat itu kita akan dipandu untuk melihat tanaman jenis kopi, proses pembuatan kopi luwak dan bisa minum berbagai jenis kopi yang disediakan gratis. Di dalam situ ada juga toko yang menjual kopi, tapi tidak dipaksa harus membeli. Baiklah mari kita singgah. Baca di postingan selanjutnya.

Setelah puas icip-icip kopi kami pun langsung ke Joger yang kebetulan ada cabangnya dekat-dekat Bedugul juga.

Teman Joger
Setelah puas berbelanja di Joger, kami pun langsung menuju ke Pura Tanah Lot dan Pura Batu Bolong. Rencananya mau lihat sunset.

Pura Tanah Lot
Pura Batu Bolong
Dari sini kami langsung minta diantar ke hotel untuk beristirahat. Untuk dinner tinggal nyebrang jalan saja mampir di bubur Laota.

Dimsum Laota ( Lihat banner)

Wonderful Indonesia

Rabu, 01 Februari 2017

Bergaya Bagaikan Raja Dan Ratu Di Great Wall

Yang namanya Imlek tentu tidak jauh-jauh dari budaya China. Beberapa tahun yang lalu, kami berkesempatan untuk mengunjungi Negeri China. Kalau ada kesempatan boleh dong gaya-gayaan ala raja dan ratu yang digotong pakai tandu oleh pengawal-pengawal kerajaan, ceritanya kan lagi jalan-jalan keluar istana mengunjungi Tembok Besar China atau bahasa kerennya "The Great Wall of China".

Begitu turun dari bus di area parkiran menuju gerbang masuk untuk ke loket, banyak sekali toko-toko souvenir yang menggoda iman untuk dibeli. Harus siapkan jurus tawar menawar nih, ah entar aja belanjanya pas balik nanti. Tapi kok ada yang menarik perhatian kami, sepertinya ada arak-arakan gitu deh. Jadi kami langsung jalan menuju kesana. Ternyata.. oh.. ternyata ada penyewaan baju kostum adat China yang uniknya si penyewa kostum digotong pakai tandu keliling-keliling oleh prajurit-prajurit kerajaan. Ho.. ho.. ho cobain ah..


Raja dan Ratu lagi jalan-jalan
Inilah kami
Puas foto-foto dengan ditandu keliling-keliling, kami pun siap untuk mengeksplorasi The Great Wall of China ini. Perlu diketahui bahwa ada lima buah tower yang merupakan stasiun perhentian sementara di Great Wall. Untuk eksplorasi kami putuskan langsung beli tiket naik cable car langsung ke tower no. 5 pulang pergi saja, karena berdasarkan pengalaman bertahun-tahun yang lalu saat winter menjelang imlek mulai jalan dari tower no. 1 sangat melelahkan, apalagi jalanan bersalju dan sangat licin.

Oya untuk masuk ke gerbang The Great Wall ini ada beberapa section/jalur, kayaknya kami lewat Badaling. Di atas Great Wall dingin juga pada musim semi dan agak berkabut.
Mungkin Great Wall bisa tampak lebih indah di musim panas atau musim gugur kali ya?


The Great Wall of China (New Seven Wonders) @ Beijing
Ramai pengunjung menandakan situs ini sangat populer

Musim semi yang berkabut
Mudah-mudahan bisa datang lagi bareng kids...
The Great Wall of China ini masuk dalam salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru dan juga masuk dalam situs Warisan Dunia versi UNESCO.

Dari Great Wall kami langsung ke restoran untuk mengisi perut. Eh di depan restonya ternyata ada lagi tempat penyewaan kostum adat China, kali ini versi duduk di kursi kerajaan. Ikutan lagi ah, kan ceritanya raja dan ratu sudah balik ke istana setelah puas jalan-jalan (Fotonya pakai kamera langsung jadi, kita tinggal bayar saja hasil fotonya)

Raja dan ratu sudah balik istana
Di Jakarta juga banyak kok sewa kostum model begini apalagi menjelang Imlek, Biasanya di mall-mall. nah ini dia contohnya..

Bergaya dengan pakaian klasik China

Shanghai Dress
Sang Pangeran
Edisi : Jalan-jalan Beijing - Tianjin (Mei 2006)

Happy Travelling