Selasa, 14 November 2017

Asyiiknya Cimory Riverside Resto

Yuhuu... akhirnya dapat kesempatan juga ke daerah Puncak.. Terakhir kapan ya? Seingat saya sih sudah lama. Mari kita bernostalgia! Yang namanya nostalgia tentu ke tempat yang dahulu kala pernah kita datangin terus kita pingin datang lagi, entah karena kita suka tempatnya atau karena penasaran.

Kalau saya? Tentu saja karena bingung.. ha.. ha.. ha.. Ceritanya David ada acara gathering terus ngajakin kita ikut, iseng searching lokasi tempatnya, eh ternyata dekat dengan Cimory Riverside Resto. Awalnya si papa David bilang "Kan sudah pernah ke sana, rasa makanan-nya juga biasa. Cari dong tempat nge-hits lainnya yang kita belum pernah pergi? Dia pengen ikut kekini-an.. Ha.. ha.. ha..

Albert tiba-tiba ingat! Cimory yang mana? Yang ada sungainya kan? Mauuu!...
Jeremy cuma ikut-ikutan bilang "Hore.. hore..!"
So? Deal? Tenang saja entar dari Cimory kita baru ke tempat nge-hits lainnya (maksudnya tempat yang kita belum pernah pergi). Okelah kalau begitu! Si papa David ikut-ikutan senang juga... Horee.. horeee..

Singkat cerita kita pun tiba di Cimory Riverside Resto jam 10-an. Sebuah resto yang berada di tepi Sungai Ciliwung dan di seberang restonya dibangun Mini Zoo yang diberi nama Cimory Riverside Forest. Entar kita sekalian ke sana ya!! Soalnya waktu datang pertama kali belum dibangun.

Cimory Riverside, November 2017
Oya sekedar mengingatkan kalau bepergian ke Kawasan Puncak, ada baiknya memperhatikan jadwal buka tutup arus lalu lintas di sana, terutama hari Sabtu dan Minggu.

Begitu masuk ke dalam Cimory, kita akan bertemu dengan patung sapi. Tapi kok patungnya jadi lebih besar? Dulu patung sapinya kecil, kids mulai kasak-kusuk..

Ini nih penampakan patung sapi waktu kita datang bulan April 2013. Kids juga masih kecil, wajar dong patung sapinya juga masih kecil.. Ha.. ha.. ha..

Cimory Riverside, April 2013
Karena kids sudah mulai besar si patung sapi juga tidak mau kalah, si sapi-pun membesar.. Ha.. ha.. ha.. Kangen sama sapi kecil!! 


Cimory Riverside, November 2017
Nah di sebelahnya ada juga sapi yang kita ajak foto bersama ramai-ramai.. Duh senangnya!!


Selesai urusan dengan patung sapi, sekarang mari kita ngemil! Belum jam makan siang soalnya. Cari tempat duduk yang dekat sungai. Cukup pesan dua porsi makanan untuk ber-empat supaya lebih terasa sensasi rebutannya.. Ha.. ha.. ha..


Cimory Riverside, November 2017
Sekarang kita lebih beruntung karena datangnya saat snack time, jadi bisa duduk langsung dengan view sungai. Dulu karena datangnya pas makan siang, ya dapatlah tempat seadanya yang tersedia saja, sesuai nomor antrian (kayak tempat duduk menentukan posisi saja).. Ha.. ha.. ha..

Pesanan makanannya juga ala Western ikutin rekomendasi si mbak aja deh, dia bilang sosis panjang enak, maka kita pun pesan itu. Sekarang si sosis panjang masih ada di daftar menu, cuma harganya saja yang berubah... tentu saja jadi lebih mahal. Kalau mau makan hidangan ala Indonesia juga tersedia kok.

Ini foto waktu kita datang pada bulan April 2013. Kids masih kecil, Jeremy saja masih makan ala slow cooker, jadi cuma ikutan foto sambil cemal-cemil saja.


Cimory Riverside, April 2013
Sambil nunggu makanan, kids main di playground ditemani papa David..

Cimory Riverside, November 2017
Kids serasa bernostalgia dengan menunggang sapi.. Ya.. ya.. ya.. tapi menunggang sapi itu bukan di sini darling, tapi di Cimory satunya lagi yaitu Cimory Mountain View yang berkonsep pemandangan menghadap bukit.

Cimory Mountain View, April 2013
Kalau dulu kita hanya bisa berfoto dengan latar belakang sungai dan ngajak kids main ayunan sambil lihat sungai.

Cimory Riverside, April 2013

Main ayunan, April 2013
Sekarang selain foto dengan pemandangan sungai, kita sekalian menyusuri sungai dan naik jembatan untuk nyebrang ke Mini Zoo-nya. Asyiik ya!



Banyak juga dipasang spot-spot menarik untuk berfoto sekalian promosiin produknya. You know kids lah? Lihat patung suka nggak tahan kalau nggak beraksi.. Ha.. ha.. ha..


Apalagi ya? Oh itu sekarang ada Museum LULU (Lukisan Lucu) yang katanya sih Museum 3D terbesar di Puncak. Benar nggak ya? Mungkin karena belum ada saingannya.. Ha.. ha.. ha..

Jeremy pengen masuk cobain foto-foto di dalam. Baiklah mari kita beli tiket masuk dulu ya!


Kalau dulu cuma ada swalayan yang jualan produk susu segar dan daging olahan ala Cimory, trus ada toko coklat yang mereka namakan Chocomory, sehingga terkesan tempatnya luas dan lapang walaupun ramai..

Sekarang banyak penambahan, ada toko es krim, toko souvenir bahkan di lantai bawah pun dibikin Factory Outlet sehingga menimbulkan kesan padat kalau jalan siap senggol kanan kiri, apalagi kalau ada yang mau foto.. Ha.. ha.. ha..

Di sini saya beli gantungan kunci sapi tulisan Cimory, Jeremy cobain marshmallow dicelupin coklat fountain. Albert dan papanya cobain es krim.. Yummy!



Setelah puas di Cimory Riverside kita pun melanjutkan perjalanan ke De Ranch Puncak yang katanya rasa Bandung.. Seperti apa ya penampakannya? Jadi penasaran? Baca di postingan selanjutnya ya.. See you..

Happy Holiday

Senin, 06 November 2017

Kids School Project

Pulang sekolah, Jeremy bawa "surat cinta" untuk tugas orang tua di rumah dan sebuah kalung yang dia persembahkan untuk Mama. Dengan berlari kecil dan tersenyum manis dia bilang, "Ada surat dan hadiah untuk Mama." Apa itu? Ternyata kertas pemberitahuan tentang kegiatan cookery dan juga sebuah kalung yang katanya dia buat sendiri di sekolah bareng teman-teman lain untuk mama masing-masing anak. Duh senangnya!! Memang benar apa kata pepatah, jangan melihat harga dari sebuah pemberian tapi lihatlah siapa yang memberi eh ketulusan dari si pemberi.. Ha.. ha.. ha..

Jeremy bilang lagi kalung itu bisa Mama pakai saat Christmas, pasti Mama jadi cantik. Trus hadiah natalnya Pandagguy (Gundam Model Kits), entar Jeremy bantu cariin trus yang bayar Koko. Mendengar hal itu si Koko langsung berseru, "Apaaa? Nggak kebalik?" Ha.. ha.. ha.. emang tuh si Koko Albert suka gitu orangnya. Oya tentang Pandagguy itu masuk ke salah satu wishlist koleksi saya yang tanpa sengaja terkumpul (Baca : The Beargguy Family)..

Kalung buatan Jeremy
Setelah menerima kalung, sekarang giliran baca surat pemberitahuan. Ternyata dalam rangka kegiatan cookery, anak-anak telah melakukan exploring dan telah menentukan pilihan untuk membuat makanan dari bahan dasar Koko Krunch / corn flakes (khusus kelas Jeremy). Untuk itu anak-anak diminta untuk mengumpulkan resep dan gambar makanannya. Resepnya sendiri bisa diambil dari majalah, koran ataupun internet.

Mau bikin apa ya? Tanpa sadar kita sudah masuk ke tahap planning. Jeremy bilang gampang kok bikinnya. Katanya sih dia juga bisa tanpa bantuan, tinggal taruh Koko Krunch di mangkuk, tuang susu trus.. jadi deh!! Ide yang bagus! Simpel, praktis dan tidak ribet semua bahan sudah tersedia.


Seingat saya sih corn flakes biasanya suka dibikin kue kering, tapi agak malas cari resepnya. Tiba-tiba si Papa David usul "Bagaimana kalau bikin brownies saja? Topping-nya bisa diganti sama Koko Krunch atau corn flakes?" Entar rencananya si Papa mau bawa ke tempat kerja untuk dibagi-bagi secukupnya.

Oke setuju! Pakai resep andalan kita saja tapi toppingnya kita ganti. Tidak hanya resepnya yang kita kasih tapi juga sekalian masuk tahap doing. 
C'mon kids mari kita bikin kue! Pertama-tama cuci tangan dulu!


Sementara Mama menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan kemudian difoto dulu..


Eh ternyata di dus belakang corn flakes ada resepnya. Kok nggak digunting saja tadi ya? Ah sudahlah nggak apa-apa kita tetap lanjut saja dengan Brownies Coklat topping corn flakes dan Koko Krunch..


Kita mulai tahap mixer telur dan gula, Jeremy sangat antusias. Kita berdua sudah kayak masterchef dadakan. Si Papa sibuk merekam aksi kita yang akan dimasukkan dalam DJ3 Family Activity sementara si Koko Albert yang jadi tukang fotonya.


Tahap demi tahap kita lalui mulai dari mencampur tepung, coklat bubuk dan menuang cooking coklat dan mentaga leleh hingga berakhirlah sampai masuk loyang.


Semua berjalan lancar, tapii? Terdengar suara Albert yang juga mau menuang di loyang katanya "Albert boleh coba juga nggak? Gantian dong?" Ya sudahlah "silahkan!"..


Si Albert nyuruh adiknya duduk katanya istirahat saja dulu entar Koko yang selesaikan, loh? Kok begitu? Berdua dong! Si Papa langsung protes..


Mereka berdua bekerjasama meratakan adonan di loyang dan pakaikan topping bersama..



Setelah selesai si Papa mengambil alih pekerjaan dengan merapikan topping yang berantakan serta memanggang si brownies..


Finally selesai juga tinggal tunggu dingin dan di potong-potong kemudian dimasukin kotak dan siap masuk ke tahap testing (kalau tahap ini bisa-bisanya saya saja). Albert bilang sih harusnya tahap communicating terus reflection. Nggak apa-apalah darling! Supaya cepat saja..



Semuanya beres tinggal ditesting saja, tidak hanya bagi resep tetapi juga hasilnya ke sekolah.. Ha.. ha.. ha..
Penasaran? baca resepnya di Brownies Coklat With Choco Crunch / Corn Flakes..

Jeremy dan Brownies
Bagaimana dengan project si sulung Albert yang sudah kelas 7? Dia juga ada kegiatan cookery loh. Ditugaskan bikin makanan nusantara, ceritanya satu team bertiga anak laki semua. Pilihan makanan mereka adalah Martabak Manis dan Ketoprak..

Sebelumnya Albert minta ijin untuk masak bareng temannya di rumah. Hmm boleh nggak ya? Entar kalau kotor gimana? Si Albert meyakinkan saya nggak bakalan kotor entar mereka akan membersihkan dapur saya sampai bersih seperti semula.

Albert menambahkan lagi tentang bahan-bahan yang di perlukan entar mereka bagi tugas teman-temannya juga bawa kok, jadi mama nggak usah khawatir. Si Papa agak keberatan tapi dia bilang coba aja lihat nanti! Benar nggak? Saya mulai ragu.. ha.. ha.. ha.. Bagaimana kenyataannya?

Tibalah hari sesuai kesepakatan mereka yaitu hari minggu. Temannya datang tapi hanya satu yang bawa sebatang keju dan meises, katanya teman yang satu lagi lupa bawa barang sesuai tugas dia.

Oh begitu? Ya sudahlah pakai saja bahan yang ada di rumah kami. Saya pikir nggak apalah Albert juga bisa belajar bikin martabak entar kalau pengen makan martabak suruh dia saja yang bikin..Ha.. ha.. ha..

Awalnya Albert minta tolong papa setting-in video sekalian foto-foto aksi mereka, tapi? Ternyata teman-temannya malu katanya mau foto-foto sendiri saja tapi jangan kelihatan muka. Aneh ya? Biasa anak remaja memang suka gitu..

Minta diajarin bikin martabak? Lihat saja YouTube, gampangkan? mereka nonton bertiga. Setelah selesai nonton mereka langsung beraksi. Awalnya siapkan bahan dulu..


Setelah itu ada yang bacakan resep, ada yang mengolah bahan. Kompak ya mereka? Sambil nunggu adonan mengembang, mereka bermain bersama, Jeremy juga ikutan main bersama mereka..


Semua berjalan lancar? Langsung berhasil? Tentu saja tidak.. sempat tercium bau gosong memenuhi rumah kemudian terdengar suara Jeremy dan anak-anak itu heboh.. Ya ampun itu martabak sudah jadi hitam..ulang lagi.. gagal lagi.. akhirnya adonan pertama habis.. gagal sampai 3 kali.. ha.. ha.. ha..

Akhirnya mereka ngulang bikin adonan baru untuk kedua kali, tapi? Telurnya habis. Tanggung jawab dong? Mereka naik sepeda pergi beli telur. Mulai lagi proses dari awal. Satu adonan bisa untuk tiga martabak sebenarnya. Pembuatan martabak pertama lengket di teflon.

Albert lari nemuin saya minta tolong katanya "Ma, bantuin kita, ini sudah sore gagal lagi mau sampai jam berapa selesainya?" Mukanya heboh.. ha.. ha.. ha..

Sebenarnya saya sih nggak terlalu ahli tapi paling tidak.. bisalah.. Akhirnya jadilah dua buah martabak, satunya untuk dibawa ke sekolah dan satunya lagi mereka makan bareng-bareng untuk menikmati hasil karya mereka.

Ini anak-anak lumayan tanggung jawab loh. Mereka membersihkan dapur trus cuci piring, dilap kering dan taruh di tempat semula, lantai juga dipel bersih. Begitu dong!

Hasilnya yang mereka bawa ke sekolah.



Walaupun bentuknya tidak menarik tapi kita harus mengapresiasi usaha yang sudah mereka lakukan, Datang ke rumah jam 1 siang selesai jam 5 sore.. Hmm benar-benar deh..

Ngomong-ngomong soal bikin kue memang asyik dan menarik, kadang bikin deg-degan tapi kalau berhasil senang banget, kalau gagal malah penasaran, kok bisa ya?



Just Sharing

Senin, 23 Oktober 2017

Go.. Go.. Mari Kita Komsel!!

Komsel itu apa sih? Yang saya tahu dari pengalaman dan juga dengar apa kata orang, Komsel itu adalah keluarga rohani yang bikin kita saling belajar banyak hal mulai dari membangun persekutuan pribadi dengan Tuhan lewat baca kitab suci, sharing firman Tuhan, dan berbagi kesaksian yang menguatkan.

Jadi ceritanya Kelompok Sel atau yang disingkat Komsel itu terdiri dari sekelompok orang Kristen yang anggotanya terbatas (biasanya 12 orang bisa lebih atau kurang) berkumpul bersama dipimpin oleh seorang pemimpin sel.

Kelompok itu diharapkan saling menjaga, akrab, saling menopang dan juga menjadi keluarga rohani yang tidak hanya bertemu seminggu sekali di gereja. Suasananya juga lebih kekeluargaan dan kesannya santai banget, makanya tidak heran tiap kali ada pertemuan bisa ada acara makan-makannya.

Kalau saya lihat Komsel itu sudah menjadi trend di gereja-gereja. Hampir semua gereja bikin yang namanya Komsel, walaupun pakai nama yang berbeda, mungkin mau bikin ciri khas sendiri kali ya?

Di sini saya nggak mau cerita banyak tentang Komsel, ngapain aja di Komsel, kesaksian apa yang dibagikan, bla.. bla.. bla.. Tapi lebih ke arah sisi lain dari kegiatan berkumpul saat Komsel, yaitu makan-makan. Loh? Kenapa? Ya.. iyalah.. Ini penting juga.. ha.. ha.. ha..

Jadi ceritanya rumah kami mendapat giliran menjadi tempat Komsel. Tentu saja kami bersedia dan juga bersuka cita. Seperti kata David walaupun rumah kami tidak terlalu besar, tetapi di dalam rumah harus selalu ada pujian dan penyembahan serta ucapan syukur secara pribadi melalui mezbah doa keluarga. Apalagi sekarang akan berkumpul saudara seiman yang akan saling mendoakan. Jadi ingat lagu favorit Jeremy si bungsu " 🎵Ini keluargaku Tuhan 🎶 berkati dan lindungi semua.. jagaiku dan seisi rumahku.. sampai akhir hidupku Tuhan, ku mau setia melayani-Mu.. ku bahagia jadi keluarga Allah 🎶 la.. la.. la.. "

Ayo kita persiapkan! Kalau nggak mau repot kita pesan jajanan pasar dan tumpeng saja yuuk? Itu loh seperti saat syukuran di rumah kami dua bulan lalu (Bulan Agustus 2017). Saya suka banget lihat tumpeng dengan hiasan-hiasannya (maklumlah saya kurang ahli dalam soal menghias), jadi sering kagum tuh lihat tumpeng sudah kayak pohon natal saja bentuknya.. Tapi? ini kan bukan acara syukuran, Ha.. ha.. ha..

Jeremy dan Tumpeng
Atau? Pesan nasi kotak saja? Bukan nasi bungkus pakai karet. bikin Nasi goreng Yangzhou? ceritanya lagi diskusi. Terdengar suara si papa David berseru, "Jangan! Kalau masak nasi goreng terlalu banyak rasanya jadi kurang stabil trus tidak merata, susah ngaduknya" Albert pun menambahkan "Lagian kita tidak punya kuali besar, yang ada sekarang ini cuma cukup untuk kita berempat saja, mama lupa ya?"
Iya juga ya? Sambil ngangguk-ngangguk..

Aha? Tiba-tiba terlintas suatu ide memang sih agak repot tapi mengingat slogan keluarga kami memasak adalah cinta, berbagi dan menikmati, bolehlah kita terapkan sekarang dalam skala yang lebih besar. Karena ada cinta, kita mau memasak kemudian berbagi dengan yang lain dan menikmatinya bersama.

C'mon kita mulai! Rencananya untuk cemilan kita mau buat dua macam yaitu Brownies Coklat dan juga Kroket Kentang supaya ada cita rasa manis dan asin seperti kehidupan ini.. Ha.. ha.. ha..
Untuk menu utamanya tentu saja ada nasi putih, Kakap goreng asam manis, tempe bacem yang dipadukan dengan sambel embe-Bali dan juga soup Bacon and Potato ala Jerman (resep dari Game NDS) supaya cita rasa internasional-nya juga ada.. Ha.. ha.. ha.. tapi bacon-nya saya ganti dengan Ma Ling babi..oops..

Supaya semua terlaksana dengan baik, sehari sebelumnya kita sudah harus mulai mempersiapkan diri dan bahan yang bisa diolah. Kita mulai dari membuat tempe bacem yang rasanya cuit..cuit.. enak versi saya. Bumbu ungkepnya bisa juga dipakai untuk membuat ayam goreng bacem.. Penasaran? lihat resep : Ayam Goreng Bacem

Tempe bacem sedang diungkep

Siap digoreng keesokan harinya
Lanjut bikin kroket kentang isi daging dan wortel yang rasanya tidak kalah enak. Salah satu cemilan kesukaan keluarga kami. Penasaran? Lihat resepnya di Kroket Kentang Isi Daging



Kroket siap digoreng keesokan harinya
Sekarang giliran Brownies Coklat yang rasanya tralala enak.. enak.. enak versi kids yang dibuat dengan cinta. Penasaran? Lihat resep : Brownies Coklat.

Mulai! Action! Ceritanya bahan-bahan sudah kita siapkan di meja tinggal kita buat saja. Foto dulu dong! Cheers! No pic = hoax.. Ha.. ha.. ha.. mulai datang isengnya..


Tiba-tiba terdengar suara protes "Jul yang serius? Pencitraan dikit dong?" Oke baiklah mas, kayak gini ya? Sambil pose serius. Eh tapi hasil fotonya bagus kan? Si papa David menjawab santai "Bagus dong! Cantik.. tuh kuncirnya sudah kayak Lara Croft" Hmm benar-benar deh..


Ngomong-ngomong tentang pencitraan, jadi ingat siapa ya? Hmm gabener.. ah sudahlah, saya pura-pura lupa..

Lanjut kita selesaikan bersama!


Selesailah rangkaian persiapan untuk hari ini, semua bahan kita simpan di kulkas untuk kita olah secara matang esok hari. Tempe bacem dan kroket kentang tinggal digoreng dan brownies-nya tinggal ditaruh pada suhu ruang. Siip.. siip beres! Hati mulai tenang dan tentram.. Ha.. ha.. ha..

Eh tapi ada yang kurang? Yup tambahan lauk kakap asam manis. Kalau yang itu serahkan saja sama ahlinya. Buka daftar menu dan mulai order minta diantar ke rumah sesuai hari dan jam yang kita inginkan.. Hallo! bla..bla.. bla.. Finally.. Done..

 
Yuhuu!! Tibalah hari sabtu tepat sesuai giliran Komsel yang akan diadakan di rumah kami malam harinya. Tapi? kenapa saya susah bangun pagi ini dan badan terasa capek ya? Anak-anak sudah pada bangun dan mulai kasak kusuk nanyain "Jadi nggak olah raga-nya?". Kegiatan rutinitas hari Sabtu dan Minggu, jalan pagi dan berakhir dengan makan bubur ayam atau nasi kuning. Si papa David yang juga masih ngantuk ikutan nanyain, "Jadi nggak? Kalau nggak jadi, kita tiduran lagi sebentar" Ha.. ha.. ha.. memang kalau mau melakukan sesuatu secara konsisten banyak godaannya.

Akhirnya Jeremy main sepeda dan Albert nawarin diri untuk membuat sarapan nasi goreng tomat yang banyak lauknya. Sepertinya dia konsisten dengan slogan yang kita buat bersama memasak adalah cinta, berbagi dan menikmati. Karena cinta Albert memasak untuk dibagikan kepada kami dan kami sekeluarga bisa menikmati sarapan bersama. Sederhana 'kan?



Albert  mengingatkan kembali undangan untuk orang tua menghadiri seminar parenting di sekolahnya dengan tema "My Parents, My Mentor" dan juga berhubung di undangannya tertulis "Dalam rangka memperlengkapi peran ayah (orang tua) dalam mengenal perbedaan cara pandang dan perilaku generasi saat ini serta menjalin hubungan ayah (orang tua) dan anak yang lebih berkualitas maka seminar ini diselenggarakan" jadi si ayah David pun menyempatkan diri untuk hadir di tengah kesibukannya.. Ha.. ha.. ha..


Saya melanjutkan tugas mulia mempersiapkan bahan-bahan makanan sentuhan terakhir yaitu sup Ma Ling babi.. oops dan juga sambal embe.. Mari kita kupas dan potong-potong kentang dan wortel serta mengiris bawang dan jangan lupa mengulek cabe rawit..


Setelah itu langsung meluncur ke warung bakmie dekat sekolahan untuk lunch bersama sambil dengerin hasil seminar parenting hari ini dan kita diskusi-in. Saya tulis intisari-nya supaya nggak lupa. Ceritanya situasi saat seminar anak dan ayah dipisah, anak di suruh gambar pohon dan kado untuk orang tuanya di ruangan lain, sementara si ayah mendengarkan materi seminar yang disampaikan narasumber setelah selesai baru mereka dipertemukan kembali untuk berdiskusi.

Saat lagi makan si ayah David mulai bercerita tentang seminar yang dia ikuti tadi, katanya topik kali ini adalah kebahagiaan anak di masa kecil adalah kunci sukses masa depannya. Pembicaranya juga bilang pernikahan yang bahagia adalah perkawinan dua orang yang sudah bahagia, bukan dua orang yang belum bahagia lalu menikah untuk mencari kebahagiaan. Dan juga katanya warisan terbesar orang tua adalah membuat anak tidak membutuhkan warisan karena sudah mendapatkan semua yang dia butuhkan untuk mencapai impiannya. Terakhir sekolah yang hebat adalah sekolah yang mendidik orang tua menjadi orang yang hebat juga dalam mendidik anak..

Cerita seminar belum selesai hanya di warung bakmie, masih panjang lebar diceritakan dalam mobil, katanya pembicara juga menceritakan pengalaman hidup dia serta tidak lupa memberi contoh-contoh dan perbandingan..

Eits hampir lupa singgah sebentar beli karpet untuk Komsel nanti soalnya kita mau lesehan. Malu dong pinjam karpet terbang melulu. Tapi sepertinya karpetnya agak kekecilan deh. Mudah-mudahan yang duduk di lantai tidak kedinginan dengan setelan AC maksimal. Cobain duduk lantai? Ah biasa saja tidak terlalu dingin.. Ha.. ha.. ha..


Makan bakmie sudah, beli karpet sudah.. santai dulu dong! Sebelum berkutat lagi dengan masakan. Si papa David malah ketiduran sampai sore..

Sudah sore! Saatnya menggoreng tempe bacem dan kroket kentang serta membuat sup dan sambel.. Cia yoo!


Dan hasilnya.. terdapatlah tempe bacem yang akan dinikmati dengan sambel embe (sambel bawang goreng) Hmm nikmat..


Ada juga sup kentang wortel yang terasa nikmat dengan taburan bawang goreng.. Hmm lezatnya..


Ditambah lagi dengan kakap goreng asam manis yang rasanya lumayan..


Semua makanan itu dapat dinikmati dengan nasi putih hangat..

Untuk cemilan sambil menunggu anggota Komsel lengkap adalah Brownies coklat dan Kroket kentang..

Brownies Coklat

Kroket Kentang
Setelah semuanya selesai, hmm.. harum bawang dan sambel mendominasi ruangan.. haaciih harus cepat-cepat mandi dan bersiap-siap..

Acara Komsel berlangsung lancar, sambil menunggu kehadiran yang lain, Jeremy berinisiatif bagi-bagi kue, Albert yang bagiin minumannya. Semua tertawa mendengar celetukan Jeremy yang bilang bikin kue itu repot loh, harus pakai blender muter-muter (maksud dia mixer) trus pakai nanyain "enak nggak?" Ha.. ha.. ha..

Just Sharing